JAKARTA, HOLOPIS.COM – Meski harga tetes tebu mulai naik pada musim giling 2026, banyak petani mengaku belum merasakan untung. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Kenaikan harga tetes tebu pada musim giling 2026 belum sepenuhnya membawa angin segar bagi petani.
Meski harga produk samping pengolahan tebu itu mulai pulih setelah pemerintah memperketat impor etanol dan tetes tebu, banyak petani mengaku belum benar-benar menikmati hasilnya.
Persoalannya bukan lagi sekadar harga, tetapi menyangkut tata niaga, mekanisme lelang, hingga lemahnya posisi tawar petani di hadapan pabrik gula.
Harga tetes tebu memang bergerak naik dibandingkan tahun lalu.
Pada awal musim giling Mei 2026, harga berada di kisaran Rp1.600 per kilogram dan kini mencapai Rp1.700 hingga Rp2.000 per kilogram, bahkan lelang di Lampung sempat menyentuh Rp2.200 per kilogram.
Kenaikan tersebut terjadi setelah pemerintah menerbitkan Permendag Nomor 18 Tahun 2026 yang memasukkan impor tetes tebu dan etanol ke dalam skema pengendalian.
Namun, menurut pengamat pertanian Khudori, membaiknya harga belum otomatis meningkatkan kesejahteraan petani.
Ada persoalan yang jauh lebih besar, yakni sistem distribusi manfaat dari penjualan tetes tebu yang dinilai belum berpihak kepada pemilik bahan baku.
Khudori menjelaskan, anjloknya harga tetes pada 2025 menjadi pelajaran penting.
Saat itu harga yang sempat mencapai Rp1.600 per kilogram di awal musim giling merosot hingga hanya Rp700-Rp1.000 per kilogram pada akhir musim.
Kondisi tersebut dipicu melimpahnya pasokan dari negara-negara produsen seperti Thailand, India, dan Filipina, bersamaan dengan lemahnya permintaan industri sehingga stok menumpuk di pasar domestik.
Situasi tersebut diperparah oleh tingginya ekspor tetes tebu.



