JAKARTA, Holopis.com – Harga bioetanol resmi naik menjadi Rp10.933/liter pada Juli 2026. Apakah kenaikan ini akan memicu efek domino pada harga BBM nasional?
Harga bahan bakar nabati kembali menjadi perhatian setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) bioetanol untuk Juli 2026 naik signifikan menjadi Rp10.933 per liter.
Kenaikan ini langsung memunculkan spekulasi mengenai potensi dampaknya terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, harga bioetanol tersebut melonjak dibandingkan bulan Juni 2026 yang masih berada di level Rp8.062 per liter.
Kenaikan ini dipengaruhi oleh pergerakan harga tetes tebu serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menjadi bagian dari formula perhitungan HIP.
Perhitungan harga bioetanol menggunakan formula HIP = (harga tetes tebu KPB rata-rata tiga bulan x 4,125 kg/L) + US$0,25 per liter.
Dalam periode perhitungan terbaru, harga tetes tebu KPB rata-rata tercatat Rp1.568 per kilogram, sementara kurs tengah Bank Indonesia berada di level Rp17.853 per dolar AS.
Saat ini, Indonesia telah memasarkan BBM dengan campuran bioetanol 5% (E5) melalui produk Pertamax Green 95 yang dikelola oleh PT Pertamina Patra Niaga.
Namun, program tersebut masih bersifat komersial dan belum menjadi kewajiban nasional.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah menyiapkan kebijakan mandatori pencampuran bioetanol hingga 20% (E20) yang ditargetkan mulai diterapkan pada 2028.
Jika kebijakan ini berjalan, kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan mencapai sekitar 8 juta kiloliter per tahun untuk mendukung substitusi sebagian impor BBM yang saat ini masih berada di kisaran 20 juta kiloliter per tahun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut kebijakan bioetanol sebagai bagian dari strategi penguatan ketahanan energi nasional dan pengurangan ketergantungan impor.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar karena ketersediaan bahan baku seperti tebu, jagung, dan singkong yang melimpah di dalam negeri.
Ia juga mencontohkan Brasil yang telah lebih dulu menerapkan campuran etanol hingga E30, bahkan E100 di beberapa wilayah sebagai bahan bakar kendaraan.
Meski demikian, pemerintah mengakui bahwa pada tahap awal implementasi, kebutuhan bioetanol kemungkinan masih harus dipenuhi melalui impor sembari memperkuat produksi dalam negeri.
Sejumlah pelaku industri energi menilai kenaikan harga bioetanol berpotensi memengaruhi struktur biaya BBM campuran apabila implementasi E20 berjalan secara luas, terutama jika tidak diimbangi dengan efisiensi produksi dan stabilitas pasokan bahan baku.


