JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan kondisi pangan nasional, khususnya beras, berada dalam posisi aman meski terdapat potensi ancaman cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino pada tahun ini.
Kepastian itu disampaikan Amran usai melaporkan perkembangan sektor pertanian kepada Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Amran, stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 5,2 juta ton dan menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami laporkan bahwasanya stok kita per hari ini, ini bulan Juni itu berada pada sekitar 5,2 juta ton, sampai dengan hari ini. Dan itu stok kita aman,” kata Amran.
Selain cadangan beras pemerintah, Kementerian Pertanian juga mencatat potensi produksi dari tanaman yang masih berada di lahan atau standing crop mencapai sekitar 10 hingga 11 juta ton.
Di sisi lain, persediaan beras yang beredar di sektor hotel, rumah tangga, dan restoran diperkirakan mencapai 12,5 juta ton.
Dengan kombinasi ketiga sumber tersebut, pemerintah meyakini kebutuhan pangan nasional masih dapat terpenuhi dalam jangka panjaem, yakni antara bulan April hingga Juli 2027.
“Artinya dengan cadangan ini tiga-tiganya itu bisa 10 – 11 bulan ke depan. Kalau anggaplah yang terendah adalah 10 bulan ke depan artinya sampai dengan bulan April, Juli sampai April itu 10 bulan ke depan itu cukup,” ujarnya.
Amran menjelaskan ketersediaan stok tersebut menjadi modal penting menghadapi potensi gangguan produksi akibat perubahan iklim. Apalagi, puncak panen nasional diperkirakan kembali berlangsung pada Maret tahun depan.
“Sedangkan bulan Maret itu sudah panen puncak. Jadi dampak El Nino Godzilla sebagaimana disampaikan oleh BMKG insya Allah itu bisa kita mitigasi risikonya,” katanya.
Untuk mengantisipasi ancaman kekeringan dan menjaga produktivitas pertanian, pemerintah telah menjalankan sejumlah program strategis, mulai dari pembangunan embung, irigasi pompa, sumur dalam, hingga pompanisasi.
Selain itu, pemerintah juga terus melakukan optimalisasi lahan rawa agar frekuensi panen meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.
Program cetak sawah baru juga tetap dilanjutkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kita sudah membangun embung, kemudian irigasi pompa, kemudian sumur dalam, kemudian pompanisasi, oplah atau optimalisasi lahan yaitu lahan rawa yang biasanya panen satu kali jadi dua kali dan tiga kali. Kemudian cetak sawah kita lanjutkan. Ini semua bisa memitigasi risiko,” jelasnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Amran optimistis Indonesia mampu menjaga pasokan pangan di tengah tantangan iklim global.
“Sekali lagi insya Allah untuk pangan aman,” tegasnya.

