HOLOPIS.COM, JAKARTA – Memasuki masa libur sekolah, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengeluarkan peringatan kepada masyarakat terkait bahaya bermain layang-layang di sekitar jalur operasional Kereta Cepat Whoosh. Aktivitas yang kerap dianggap permainan biasa itu ternyata berpotensi mengganggu keselamatan perjalanan kereta cepat.
Sepanjang 2024 hingga Mei 2026, petugas KCIC telah mengamankan sebanyak 452 layang-layang beserta benangnya yang ditemukan di sekitar jalur operasional Whoosh. Temuan tersebut didominasi wilayah Padalarang, Cimahi, dan Bandung yang berada di sekitar lintasan kereta cepat.
Data KCIC menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pada 2024 tercatat 25 temuan layang-layang, kemudian melonjak menjadi 317 temuan sepanjang 2025. Sementara pada periode Januari hingga Mei 2026 saja sudah ditemukan 110 layang-layang yang berpotensi mengganggu operasional kereta cepat.
General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, mengatakan peningkatan aktivitas bermain layang-layang saat libur sekolah perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi orang tua dan pihak sekolah.
“Memasuki masa libur sekolah, kami mengajak orang tua, masyarakat dan pihak sekolah untuk turut mengawasi aktivitas anak-anak saat bermain. Layang-layang yang putus dan terbawa angin dapat tersangkut pada jaringan listrik aliran atas Whoosh dan membahayakan keselamatan perjalanan Whoosh,” ujar Eva Chairunisa dalam keterangan tertulis, dikutip Holopis.com, Kamis (11/6/2026).
KCIC mengingatkan masyarakat agar tidak bermain layang-layang dalam radius minimal tiga kilometer di sisi kanan dan kiri jalur operasional Whoosh. Sebab, layang-layang yang terbawa angin dapat tersangkut pada jaringan listrik aliran atas atau Overhead Catenary System (OCS) yang menjadi sumber tenaga utama kereta cepat.
Jaringan OCS menggunakan tegangan tinggi sehingga benang maupun layang-layang yang tersangkut berisiko merusak instalasi kelistrikan dan pantograf kereta. Kerusakan tersebut tidak hanya berpotensi membahayakan perjalanan, tetapi juga dapat memicu gangguan operasional dan keterlambatan yang berdampak pada ribuan penumpang.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, KCIC secara rutin melakukan patroli di sepanjang jalur operasional, memasang papan peringatan keselamatan, serta mengamankan layang-layang yang ditemukan di sekitar lintasan.
Perusahaan juga menggandeng pemerintah daerah, aparat kewilayahan, sekolah, dan tokoh masyarakat guna meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya menjaga keamanan jalur kereta cepat.
Selain pengawasan lapangan, KCIC juga aktif menggelar edukasi keselamatan kepada pelajar dan masyarakat. Sepanjang 2024 hingga Mei 2026, sebanyak 46 kegiatan sosialisasi telah dilaksanakan dan menjangkau 38 sekolah tingkat SD hingga SMP dengan total 7.827 siswa. Program tersebut juga menyasar masyarakat di enam kecamatan yang dinilai rentan mengalami gangguan akibat aktivitas bermain layang-layang.
“Keselamatan operasional Whoosh tidak hanya mengandalkan teknologi dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan jalur kereta cepat, tidak melakukan aktivitas yang berpotensi mengganggu operasional, serta segera melaporkan apabila menemukan potensi gangguan di sekitar jalur Whoosh,” tutup Eva.


