DUBAI, Holopis.com – Bandara Internasional Dubai bakal ditutup permanen usai 85 tahun beroperasi, meski selama ini jadi bandara tersibuk di dunia.
Kabar mengejutkan datang dari dunia penerbangan internasional.
Bandara Internasional Dubai (DXB), yang selama ini dikenal sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia, dikabarkan akan ditutup secara permanen setelah lebih dari 85 tahun beroperasi.
Penutupan besar ini direncanakan terjadi pada 2035 sebagai bagian dari transformasi besar infrastruktur penerbangan Uni Emirat Arab (UEA).
Langkah penutupan bandara legendaris tersebut langsung menjadi sorotan global karena DXB selama ini menjadi pusat utama lalu lintas udara internasional, menghubungkan jutaan penumpang dari berbagai belahan dunia setiap tahunnya.
Menurut laporan berbagai sumber internasional, seluruh operasional penerbangan dari Bandara Internasional Dubai akan dipindahkan ke Bandara Internasional Al Maktoum (DWC) yang saat ini sedang menjalani proyek pengembangan besar-besaran dengan nilai investasi mencapai sekitar 28 miliar pound sterling atau setara Rp 671 triliun.
Bandara Al Maktoum diproyeksikan menjadi pusat penerbangan masa depan yang jauh lebih besar dan modern dibandingkan DXB.
Setelah proyek ekspansi selesai, bandara ini ditargetkan mampu menampung hingga 260 juta penumpang per tahun, menjadikannya salah satu bandara dengan kapasitas terbesar di dunia.
Pengembangan tersebut mencakup pembangunan lima landasan pacu paralel serta hingga 400 gerbang pesawat, lengkap dengan sistem teknologi penerbangan modern yang diklaim akan mengubah standar layanan bandara global.
Dubai Aviation Engineering Projects (DAEP) menyebutkan bahwa konsep baru Bandara Al Maktoum akan menghadirkan “era baru sistem bandara pintar” yang lebih efisien, cepat, dan berfokus pada kenyamanan penumpang.
Keputusan menutup Bandara Internasional Dubai tidak diambil secara tiba-tiba.
CEO Dubai Airports, Paul Griffiths, menjelaskan bahwa mempertahankan dua bandara utama yang letaknya berdekatan secara ekonomi sudah tidak lagi efisien.
“Tidak masuk akal untuk mengoperasikan dua hub utama dengan jarak yang begitu dekat satu sama lain. Kami akan memindahkan setiap layanan ke DWC,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip media internasional.
Selain itu, lokasi DXB yang berada di tengah kawasan padat penduduk dan diapit dua jalan raya utama juga menjadi kendala besar untuk pengembangan lebih lanjut.
Hal ini membuat perluasan bandara menjadi sangat terbatas secara ruang.
Griffiths menambahkan bahwa pada saat transisi dilakukan, sebagian besar aset di DXB sudah mendekati akhir masa operasionalnya, sehingga dibutuhkan investasi besar jika tetap dipertahankan.
Proses pemindahan operasional dari DXB ke DWC diperkirakan berlangsung bertahap dalam beberapa tahun ke depan.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa fase awal transisi dapat dimulai sekitar 2032, sementara penutupan penuh DXB diperkirakan terjadi pada 2035.
Namun, proyek besar ini tidak akan langsung selesai sepenuhnya pada waktu tersebut.
Pengembangan Bandara Al Maktoum masih akan terus berlanjut hingga beberapa dekade ke depan dengan target penyempurnaan penuh sekitar 2057.
Selama masa transisi, seluruh maskapai besar yang berbasis di Dubai seperti Emirates dan flydubai akan secara bertahap memindahkan operasional mereka ke bandara baru tersebut.
Sebagai salah satu hub penerbangan internasional paling sibuk di dunia, penutupan Bandara Internasional Dubai diprediksi akan membawa dampak besar terhadap peta penerbangan global.
DXB selama ini menjadi titik transit utama bagi jutaan penumpang internasional yang melintasi rute Asia, Eropa, Afrika, hingga Amerika.
Dengan dipindahkannya seluruh operasi ke DWC, pola penerbangan global diperkirakan akan ikut berubah.
Meski begitu, pemerintah Dubai justru melihat langkah ini sebagai peluang untuk meningkatkan dominasi mereka dalam industri penerbangan dunia.
Bandara baru DWC diharapkan tidak hanya menjadi pusat transit, tetapi juga menjadi simpul utama logistik global yang terintegrasi dengan teknologi transportasi modern.
Proyek besar ini juga terhubung dengan pengembangan infrastruktur transportasi darat di UEA, termasuk jaringan kereta cepat Etihad Rail yang akan menghubungkan 11 kota dan wilayah di negara tersebut.
Kereta ini diperkirakan mampu melaju hingga 200 km per jam dan memangkas waktu perjalanan antar kota hingga sepertiga dibandingkan perjalanan darat biasa.
Dengan adanya integrasi antara bandara baru dan jaringan kereta cepat, mobilitas penumpang diperkirakan akan menjadi jauh lebih cepat, efisien, dan ramah lingkungan.
Bandara Internasional Dubai bukan sekadar fasilitas transportasi, tetapi juga simbol kemajuan ekonomi dan globalisasi UEA selama puluhan tahun.
Sejak mulai beroperasi, DXB telah menjadi salah satu bandara paling sibuk di dunia dan menjadi pusat utama bagi maskapai Emirates yang mendunia.
Namun, seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan infrastruktur yang lebih besar, Dubai kini memilih untuk melangkah ke era baru dengan membangun pusat penerbangan yang lebih modern di DWC.
Meski akan ditutup, DXB tetap akan dikenang sebagai salah satu bandara paling berpengaruh dalam sejarah penerbangan dunia, yang pernah menjadi gerbang utama jutaan perjalanan internasional setiap tahunnya.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...