HOLOPIS.COM, JAKARTA – Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) menyoroti efektivitas sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) yang selama ini menjadi andalan digitalisasi penegakan hukum lalu lintas di Indonesia. Organisasi tersebut menilai lonjakan jumlah pelanggaran yang terekam kamera ETLE tidak serta-merta menjadi bukti keberhasilan sistem.
Ketua FORSIBER, Hamdi Putra, menilai klaim peningkatan data pelanggaran hingga 605 persen justru perlu dibaca secara lebih kritis. Menurutnya, tingginya angka rekaman pelanggaran menunjukkan kemampuan pengawasan digital yang meningkat, namun belum diikuti efektivitas penegakan hukum di lapangan.
“Keberhasilan ETLE yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa banyak pelanggar yang berhasil difoto, melainkan dari seberapa banyak pengguna jalan yang benar-benar jera dan mengubah perilakunya menjadi lebih tertib,” kata Hamdi Putra dari Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6/2026).
Hamdi menjelaskan, dari total lebih dari 10,3 juta pelanggaran yang terekam sistem ETLE, hanya sekitar 534 ribu yang berujung pada pembayaran tilang. Angka tersebut setara dengan sekitar 5,2 persen dari total pelanggaran yang terdeteksi.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kemampuan sistem dalam mendeteksi pelanggaran dan kemampuan aparat dalam mengeksekusi sanksi hukum.
“ETLE saat ini sangat kuat sebagai alat dokumentasi dan pengawasan digital, tetapi efektivitas penegakan hukumnya masih perlu diperkuat,” ujar Hamdi.
Ia juga menyoroti tingginya angka data yang gugur pada tahap validasi. Dari jutaan pelanggaran yang terekam, sekitar 60 persen disebut tidak berhasil lolos ke tahap berikutnya.
Hamdi menilai perbaikan kualitas data kendaraan, pembaruan registrasi, serta integrasi sistem menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum pemerintah menambah jumlah kamera ETLE secara besar-besaran.
“Sudah saatnya fokus tidak hanya pada penambahan kamera, tetapi juga pada pembenahan sistem penegakan sanksi agar pelanggaran yang terekam benar-benar menghasilkan kepastian hukum,” tegas Hamdi Putra dari Forum Sipil Bersuara (FORSIBER).
FORSIBER berharap evaluasi menyeluruh terhadap sistem ETLE dapat dilakukan agar tujuan utama menciptakan budaya tertib berlalu lintas benar-benar tercapai, bukan sekadar menghasilkan jutaan data pelanggaran setiap tahun.


