Tanaman Liar Ini Disebut Bisa Bantu Obati Diabetes, Kok Bisa?

16 Shares

JAKARTATanaman liar asal Indonesia ini bikin heboh setelah diteliti punya potensi bantu obati diabetes.

Tanaman liar asal Indonesia kembali mencuri perhatian dunia medis.

Kali ini, kratom atau Mitragyna speciosa tengah diteliti karena disebut-sebut berpotensi membantu mengatasi diabetes.

Kok bisa tanaman yang tumbuh liar di Kalimantan ini dikaitkan dengan penyakit kronis tersebut?

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini memang tengah melakukan berbagai penelitian terhadap kratom, termasuk uji in vitro dan in vivo untuk melihat kemungkinan manfaatnya sebagai bahan obat, salah satunya untuk diabetes.

Menurut peneliti BRIN, Masteria Yunovilsa Putra, dalam sejumlah pengamatan awal ditemukan indikasi menarik.

- Advertisement -

Ada laporan empiris dari masyarakat di Kalimantan yang mengonsumsi kratom secara tradisional dan menunjukkan penurunan kadar gula darah.

“Secara empiris didapat data dari beberapa orang di Kalimantan yang punya riwayat diabetes. Setelah mengonsumsi kratom, kadar glukosa mereka terlihat lebih rendah,” ujarnya dalam keterangan BRIN, dikutip Jumat (15/5/2026).

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa hal tersebut masih sangat awal dan belum bisa dijadikan dasar pengobatan medis.

Uji laboratorium dan klinis masih terus dilakukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.

Kratom sendiri merupakan tanaman yang masih satu keluarga dengan kopi.

Daunnya mengandung puluhan alkaloid aktif, termasuk mitragynine dan 7-hydroxymitragynine, yang selama ini banyak diteliti karena efeknya terhadap tubuh.

Dalam riset BRIN, senyawa-senyawa ini diketahui memiliki potensi antioksidan dan antiinflamasi.

Artinya, kratom diduga bisa membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas serta mengurangi peradangan dalam tubuh.

Nah, dua hal ini penting karena diabetes sendiri sering berkaitan dengan kondisi peradangan kronis dan stres oksidatif yang merusak sel tubuh.

Meski terdengar menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa kratom belum bisa disebut sebagai obat diabetes.

Hingga kini, risetnya masih berada pada tahap awal dan belum ada kesimpulan medis yang kuat.

BRIN juga menegaskan bahwa pengujian masih terus dilakukan, termasuk untuk melihat efek samping serta potensi ketergantungan dari penggunaan jangka panjang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri masih melakukan kajian terkait keamanan kratom, termasuk kemungkinan risiko adiksi yang bisa muncul pada sebagian pengguna.

Di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan, kratom memang sudah lama digunakan secara tradisional.

Biasanya daun ini dikeringkan lalu diseduh seperti teh.

Secara turun-temurun, tanaman ini dipercaya bisa membantu meredakan nyeri, batuk, hingga meningkatkan energi.

Namun, penggunaan tersebut belum sepenuhnya didukung bukti ilmiah modern yang kuat.

Dengan berbagai kandungan aktifnya, kratom memang membuka peluang riset lebih lanjut di dunia farmasi.

Bahkan, sejumlah studi awal menyebutkan potensi kratom sebagai analgesik atau pereda nyeri.

Namun, para peneliti menekankan pentingnya kehati-hatian.

Semua klaim manfaat, termasuk untuk diabetes, masih harus melewati uji ilmiah yang ketat sebelum bisa digunakan sebagai obat.

Jadi, meski tanaman liar ini terlihat menjanjikan, jalan menuju obat resmi masih panjang dan penuh tahap penelitian.

Kratom, penelitian, BRIN, Tanaman liar, obat, diabetes, medis, gula darah, WHO, Badan Kesehatan Dunia, adiksi

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang.Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU