Life Hack Viral, Racikan Pertalite dan Pertamax Turbo Disebut Hemat BBM!

0 Shares

JAKARTA, Holopis.comLife hack campuran Pertalite dan Pertamax Turbo viral diklaim bikin BBM lebih irit. Benarkah? Simak penjelasan pakar dan fakta ilmiahnya.

Media sosial kembali diramaikan dengan sebuah life hack yang diklaim mampu menghemat konsumsi bahan bakar kendaraan.

Kali ini, warganet ramai membahas campuran Pertalite dan Pertamax Turbo yang disebut-sebut bisa menghasilkan BBM lebih irit sekaligus meningkatkan performa mesin.

Dalam unggahan yang beredar luas, disebutkan bahwa mencampurkan tiga liter Pertalite dengan satu liter Pertamax Turbo akan menghasilkan bahan bakar dengan nilai Research Octane Number (RON) sekitar 92.

Klaim tersebut membuat banyak pemilik kendaraan penasaran dan mulai mempertanyakan apakah cara tersebut benar-benar efektif untuk mengurangi konsumsi BBM.

Meski terdengar menarik, para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum didukung bukti ilmiah.

- Advertisement -

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menegaskan hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa mencampurkan Pertalite (RON 90) dengan Pertamax Turbo (RON 98) dapat membuat kendaraan lebih hemat bahan bakar.

Menurutnya, efisiensi konsumsi BBM tidak hanya ditentukan oleh angka oktan atau RON semata.

Ada banyak faktor lain yang memengaruhi performa kendaraan, mulai dari desain mesin, rasio kompresi, kondisi komponen mesin, gaya berkendara, hingga kualitas bahan bakar yang digunakan.

“Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan pencampuran kedua jenis BBM tersebut membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa bensin yang dijual di SPBU pada dasarnya terdiri dari dua komponen utama, yakni base fuel dan aditif.

Base fuel merupakan bahan bakar dasar hasil pengolahan minyak bumi, sedangkan aditif merupakan senyawa kimia yang ditambahkan untuk meningkatkan kualitas BBM.

Aditif memiliki berbagai fungsi, seperti meningkatkan angka oktan, membersihkan ruang bakar, mencegah korosi, menghambat proses oksidasi, hingga membantu menjaga sistem bahan bakar tetap bersih.

Setiap produk BBM memiliki komposisi aditif yang berbeda-beda.

Formula tersebut merupakan rahasia dagang masing-masing produsen sehingga tidak dipublikasikan kepada masyarakat.

Karena itu, menurut Supriyadi, pembahasan mengenai pencampuran BBM tidak bisa hanya berfokus pada angka RON.

Komposisi aditif juga harus menjadi perhatian karena dapat memengaruhi karakteristik bahan bakar setelah dicampurkan.

Ia menjelaskan bahwa nilai RON hasil pencampuran juga tidak dapat dipastikan hanya menggunakan perhitungan matematika sederhana.

Penentuan angka oktan dilakukan menggunakan mesin khusus bernama Cooperative Fuel Research (CFR) melalui serangkaian pengujian laboratorium.

Dengan metode tersebut, karakteristik bahan bakar dibandingkan dengan bahan bakar acuan sehingga nilai RON yang dihasilkan benar-benar terukur.

Secara teori, nilai RON campuran memang dapat diperkirakan.

Namun hasil akhirnya belum tentu sama dengan angka yang diperoleh melalui pengujian laboratorium karena bensin mengandung ratusan bahkan ribuan senyawa hidrokarbon yang saling berinteraksi.

Interaksi tersebut bisa menghasilkan efek yang saling memperkuat maupun justru saling melemahkan sehingga karakteristik akhir bahan bakar tidak bisa dipastikan tanpa pengujian.

Dari sisi kimia, pencampuran Pertalite dan Pertamax Turbo sebenarnya tidak menimbulkan reaksi berbahaya.

Kedua bahan bakar hanya bercampur secara fisik sehingga tidak langsung merusak mesin kendaraan.

Namun, Supriyadi mengingatkan bahwa persoalan utama justru berada pada interaksi aditif dari masing-masing produk.

Ketika dua jenis BBM dengan formulasi aditif berbeda dicampurkan, efektivitas aditif bisa berubah.

Misalnya, kandungan pembersih pada BBM beroktan tinggi dapat menjadi lebih encer sehingga kemampuannya menjaga kebersihan ruang bakar ikut menurun.

Tidak hanya itu, terdapat kemungkinan aditif dari dua produk berbeda tidak kompatibel satu sama lain.

Dalam penggunaan jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memicu terbentuknya endapan, meningkatkan kerak karbon, hingga membuat performa mesin tidak optimal.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu khawatir apabila sesekali terjadi pencampuran BBM karena masih terdapat sisa bahan bakar di dalam tangki saat mengisi jenis BBM yang berbeda.

Kondisi tersebut umumnya masih dianggap aman dan tidak langsung menyebabkan kerusakan mesin.

Supriyadi juga menjelaskan bahwa penggunaan BBM beroktan tinggi sesekali dapat membantu membersihkan ruang bakar.

Namun manfaat tersebut hanya bersifat sementara dan tidak dapat menggantikan perawatan kendaraan secara berkala.

Ia menambahkan, produsen BBM pada umumnya juga tidak merekomendasikan pencampuran bahan bakar karena mereka tidak memiliki data mengenai interaksi formula produknya dengan produk lain.

Selain itu, rekomendasi tersebut bertujuan menghindari potensi masalah maupun klaim apabila terjadi gangguan pada mesin kendaraan.

Karena itu, untuk memperoleh performa mesin yang optimal sekaligus menjaga usia pakai kendaraan, pemilik kendaraan disarankan menggunakan satu jenis BBM yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan dan rasio kompresi mesin secara konsisten.

Dengan demikian, klaim viral yang menyebut racikan Pertalite dan Pertamax Turbo mampu membuat kendaraan lebih hemat BBM hingga saat ini belum memiliki dasar ilmiah yang dapat dibuktikan.

Penggunaan bahan bakar sesuai spesifikasi kendaraan tetap menjadi pilihan paling aman untuk menjaga efisiensi, performa, dan keawetan mesin dalam jangka panjang.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU