HOLOPIS.COM, Jakarta – Penunjukan Raffi Ahmad sebagai Duta Kehormatan BPJS Kesehatan memicu geram netizen yang mempertanyakan apakah ia pernah menggunakan layanan tersebut.
Penunjukan Raffi Ahmad sebagai Duta Kehormatan BPJS Kesehatan menuai sorotan tajam dari warganet.
Keputusan tersebut viral di media sosial dan memunculkan berbagai reaksi, mulai dari dukungan hingga kritik keras yang mempertanyakan relevansi figur publik tersebut dengan layanan jaminan kesehatan nasional.
BPJS Kesehatan secara resmi menganugerahkan gelar Duta Kehormatan kepada Raffi Ahmad pada Jumat (24/4/2026).
Figur publik yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden itu dinilai memiliki rekam jejak kepedulian sosial yang dianggap sejalan dengan misi lembaga jaminan sosial tersebut.
Pihak BPJS Kesehatan menyebut penunjukan ini telah melalui proses penilaian oleh komite independen dan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Apresiasi ini diberikan melalui proses objektif. Kami berharap figur publik dapat membantu menyebarkan pesan pentingnya jaminan kesehatan kepada masyarakat luas,” demikian pernyataan dalam kegiatan resmi tersebut.
Namun, di media sosial, keputusan ini justru memicu perdebatan panas.
Banyak warganet mempertanyakan alasan pemilihan Raffi Ahmad sebagai duta, terutama terkait pengalaman penggunaan BPJS Kesehatan itu sendiri.
Sejumlah komentar bernada skeptis langsung membanjiri kolom komentar berbagai platform.
“Dia aja gak pernah pakai BPJS, lucu banget jadi duta,” tulis seorang pengguna X (Twitter).
“Emang kalau artis harus jadi duta semua? BPJS kan program rakyat, bukan branding selebriti,” komentar netizen lainnya.
“Sejak kapan pasien VIP luar negeri pakai BPJS?” sindir akun lain yang ikut ramai membahas isu tersebut.
Tak sedikit pula warganet yang mempertanyakan efektivitas strategi BPJS Kesehatan dalam memilih figur publik sebagai wajah kampanye.
“Kalau tujuannya edukasi, harusnya pilih orang yang memang relate sama pengguna BPJS, bukan yang hidupnya sudah di level berbeda,” tulis seorang pengguna Instagram.
“Ini bukan soal Raffi-nya, tapi soal representasi. Banyak rakyat yang benar-benar pakai BPJS tiap hari,” tambah komentar lain.
Namun, tidak semua reaksi bernada negatif. Sebagian warganet justru menilai langkah BPJS Kesehatan sebagai strategi komunikasi publik yang wajar untuk memperluas jangkauan pesan.
“Menurut saya sah-sah saja, yang penting pesan BPJS sampai ke masyarakat luas,” tulis seorang netizen.
“Figur publik itu kan punya pengaruh besar. Selama tujuannya edukasi, kenapa tidak?” komentar lainnya.
Ada juga yang mencoba melihat dari sisi positif keterlibatan Raffi Ahmad dalam berbagai kegiatan sosial yang selama ini kerap ia lakukan.
“Raffi kan sering turun bantu bencana juga, mungkin itu yang dilihat BPJS,” tulis akun lain.
Meski begitu, perdebatan di ruang digital masih terus berlanjut.
Tagar terkait penunjukan ini bahkan sempat ramai diperbincangkan di berbagai platform, menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu tersebut.
Pengamat media sosial menilai polemik ini muncul karena adanya jarak persepsi antara figur publik dengan pengalaman nyata pengguna layanan BPJS Kesehatan.
Hal ini membuat sebagian masyarakat merasa kurang terwakili oleh sosok yang dipilih sebagai duta.
Hingga berita ini diturunkan, BPJS Kesehatan belum memberikan tanggapan tambahan terkait kritik yang berkembang di media sosial.
Sementara itu, Raffi Ahmad sendiri belum merespons langsung berbagai komentar warganet yang viral tersebut.
Perdebatan mengenai penunjukan figur publik sebagai duta lembaga negara diperkirakan masih akan terus berlanjut, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap transparansi dan representasi dalam kampanye layanan publik di Indonesia.


