Holopis.com, Jakarta –– Blak-blakan, Sudaryono akhirnya buka suara soal rencana sawit masuk Papua yang belakangan ramai disorot publik.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono akhirnya angkat bicara soal polemik ekspansi kelapa sawit ke Papua.
Di tengah pro dan kontra yang terus bergulir, ia blak-blakan menyebut kebijakan ini sebagai bagian dari strategi besar negara untuk menghadapi ketidakpastian global.
Dalam Dialog Spesial di iNews TV bersama Aiman Witjaksono, Sudaryono menegaskan bahwa pengembangan sawit di Papua bukan sekadar proyek ekonomi biasa.
Lebih dari itu, langkah ini disebut sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional di masa depan.
“Situasi dunia sekarang nggak bisa diprediksi. Kita harus siap dari dalam negeri sendiri,” ujar Sudaryono, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, dinamika geopolitik global yang kian memanas menjadi sinyal kuat bagi Indonesia untuk tidak lagi bergantung pada pasokan luar negeri.
Ia menekankan pentingnya swasembada sebagai fondasi utama ketahanan nasional.
Bukan cuma itu, pemerintah kini mendorong konsep swasembada berbasis wilayah.
Artinya, setiap pulau di Indonesia, termasuk Papua, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa harus bergantung pada daerah lain.
“Kalau ada krisis atau gangguan distribusi, tiap pulau sudah siap. Pangan cukup, energi juga aman,” jelasnya.
Papua sendiri dinilai punya potensi besar untuk pengembangan sawit.
Lahan yang masih luas dan belum tergarap optimal menjadi salah satu alasan utama.
Selain itu, kawasan timur Indonesia juga dinilai strategis untuk pengembangan energi berbasis biodiesel.
Sudaryono menyebut, ekspansi sawit ini sekaligus menjadi langkah mitigasi risiko.
Dengan memperluas pusat produksi, Indonesia tidak akan bertumpu pada satu wilayah saja.
Langkah ini juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya kemandirian nasional di sektor strategis, mulai dari pangan hingga energi.
“Ini bukan kebijakan tiba-tiba. Semua sudah dihitung. Kita harus siap menghadapi kemungkinan terburuk,” tegasnya.
Meski begitu, rencana ini tak lepas dari kritik.
Sejumlah pihak menyoroti potensi dampak lingkungan, terutama terkait deforestasi dan risiko bencana ekologis yang kerap dikaitkan dengan ekspansi perkebunan sawit.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah memastikan bahwa pengembangan sawit tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Sudaryono menegaskan, aspek lingkungan akan menjadi perhatian utama dalam setiap tahap implementasi.
Di sisi lain, pemerintah juga melihat potensi besar dari sektor sawit dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain membuka lapangan kerja, industri ini juga dinilai mampu memperkuat ketahanan energi lewat program biodiesel.
Bagi pemerintah, kunci utama dari kebijakan ini ada pada keseimbangan.
Antara pembangunan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan penguatan ketahanan nasional harus berjalan beriringan.
“Yang kita kejar itu bukan cuma ekonomi. Tapi juga kekuatan bangsa secara keseluruhan,” kata Sudaryono.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa sawit kini diposisikan bukan hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi juga instrumen strategis negara.
Dengan penjelasan blak-blakan dari Wamentan, polemik ekspansi sawit ke Papua dipastikan masih akan terus berlanjut.
Namun satu hal yang jelas, pemerintah melihat langkah ini sebagai bagian penting dari persiapan menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

