Samsung Galaxy A57 Rilis, Tapi Kenapa Banyak yang Bilang Cuma Ganti Baju?

0 Shares

HOLOPIS.COM, JakartaSamsung Galaxy A57 resmi jadi sorotan, tapi respons publik tak sepenuhnya hangat. Samsung kembali melempar kartu baru di arena smartphone kelas menengah lewat kehadiran Galaxy A57.

Di permukaan, perangkat ini tampak seperti angin segar yang lebih ringan, lebih ramping, dan lebih modern. Namun di balik kilau kaca dan frame aluminium itu, muncul pertanyaan yang menggantung, apakah ini benar-benar lompatan, atau sekadar perubahan kulit tanpa isi yang terlalu berbeda?

Dalam ulasan panjang yang diunggah kanal YouTube GadgetIn, reviewer David menyoroti Galaxy A57 memang membawa penyegaran desain, tetapi tidak banyak kejutan di sektor performa maupun fitur inti.

Desain Utama

Dari awal genggaman, Galaxy A57 terasa berbeda. Bobotnya hanya sekitar 180 gram, lebih ringan dari generasi sebelumnya, Galaxy A56.

Ketebalannya juga dipangkas hingga sekitar 6,9 mm, membuatnya terasa seperti selembar kaca premium yang jatuh halus di telapak tangan.

“Begitu dipegang langsung kerasa lebih enteng, lebih nyaman,” ujar David dalam videonya di YouTube GadgetIn.

- Advertisement -

Ia menggambarkan pengalaman itu seperti memegang benda yang “tidak mau lepas dari tangan”, ringan tapi tetap solid.

Materialnya tetap bermain di level tinggi yaitu kaca Gorilla Glass Victus Plus di depan dan belakang, serta frame aluminium yang terasa kokoh.

Sertifikasi tahan air juga meningkat menjadi IP68, naik dari IP67 di generasi sebelumnya. Artinya, perangkat ini seperti penyelam kecil yang lebih percaya diri menyentuh kedalaman air tanpa panik.

Bezel layar yang kini lebih tipis juga menjadi sorotan. Walau belum sepenuhnya simetris seperti flagship, perubahan ini memberi napas visual baru yang sudah lama dinantikan pengguna seri A.

Upgrade Pelan

Namun saat masuk ke dapur pacu, cerita berubah ritme. Galaxy A57 membawa chipset Exynos 1680, yang secara generasi memang lebih baru dari Exynos 1580 di Galaxy A56.

Tapi menurut David, perubahan arsitekturnya tidak terasa revolusioner. Ia menyebutnya seperti “tukar posisi kursi” di dalam mesin, bukan membangun mesin baru.

Secara angka benchmark memang naik, terutama di multi-core, tetapi efisiensi dan lonjakan performa tidak terasa signifikan dalam penggunaan sehari-hari. Dalam pengujian gaming, hasilnya juga tidak terlalu menggoda.

Game populer seperti Mobile Legends masih belum stabil di 120 fps, sementara game berat seperti Genshin Impact hanya bertahan di kisaran 40 fps pada setting medium, dengan suhu yang bisa mendekati 47–48 derajat Celsius.

“Udah ada upgrade cooling, tapi kayaknya belum kerasa banget efeknya,” ujar David, menggambarkan performa yang terasa seperti mesin yang bekerja keras di jalan menanjak tanpa banyak perubahan signifikan.

Kamera Stagnan

Di sektor kamera, Samsung tampaknya memilih jalur aman. Konfigurasi 50MP kamera utama, 13MP ultrawide, dan 5MP makro masih dipertahankan.

Tidak ada lensa telephoto, tidak ada lompatan resolusi, tidak ada kejutan besar. Hasil foto pun disebut hampir identik dengan Galaxy A56.

Warna tetap cerah, detail cukup baik, namun cenderung datar. Seperti lukisan yang diwarna ulang dengan kuas yang sama, hanya sedikit lebih rapi.

Meski begitu, ada peningkatan kecil pada perekaman video, terutama pada transisi zoom yang lebih halus.

“Nggak patah-patah kayak sebelumnya,” kata David.

Baterai dan Software

Baterai 5000 mAh masih menjadi andalan. Dalam penggunaan harian, konsumsi dayanya tergolong standar yaitu streaming, navigasi, hingga gaming ringan tidak menunjukkan perbedaan mencolok dari generasi sebelumnya.

Pengisian cepat 45W cukup membantu, dengan 30 menit pengisian mampu mencapai sekitar 60 persen lebih. Namun setelah itu, laju pengisian melambat seperti air yang mulai mengalir tenang setelah deras di awal.

Di sisi perangkat lunak, Galaxy A57 langsung hadir dengan One UI 8.5, lebih baru dibanding A56 yang masih di One UI 8.

Samsung juga menjanjikan dukungan update panjang hingga 6 tahun, sebuah janji yang membuat perangkat ini seperti pohon yang masih akan tumbuh lama ke depan.

Harga Pasar

Bagian paling sensitif justru ada di harga, saat peluncuran Galaxy A57 dipatok lebih tinggi dibanding A56, dengan selisih yang menurut David bisa mencapai Rp 1,5 juts hingga Rp 2 juta .

Namun di pasar, harga mulai bergerak lebih realistis di kisaran Rp 6,8 juta hingga Rp 7 juta untuk varian tertentu. Di titik ini, pertarungan terasa lebih seimbang: antara desain baru yang lebih segar versus spesifikasi yang hampir serupa.

“Kalau selisihnya segitu, masih masuk akal,” kata David, seolah menimbang dua sisi timbangan yang sama beratnya.

Pada akhirnya, Galaxy A57 berdiri di persimpangan.

Di satu sisi, ia menawarkan desain yang lebih matang, lebih ringan, dan lebih modern, seperti jas baru yang dipotong rapi untuk acara penting.

Tapi di sisi lain, isi di dalamnya terasa seperti cerita lama yang dibacakan ulang dengan nada yang hampir sama.

Samsung tampaknya bermain aman di segmen ini, menjaga stabilitas alih-alih mengambil risiko besar. Namun di pasar yang kini semakin agresif, strategi ini bisa terasa seperti berjalan di tempat saat kompetitor justru berlari.

Seperti kata David, tantangannya kini bukan hanya membuat produk yang bagus, tapi membuatnya kembali terasa “spesial”. Dan di dunia smartphone yang terus bergerak cepat, diam sedikit saja bisa membuat langkah terasa jauh tertinggal.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU