HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof Nasaruddin Umar mendorong agar seluruh rumah ibadah lintas agama tidak hanya sekadar menjadi lokasi ritual keagamaan semata, akan tetapi menjadi tempat terbaik bagi persatuan dan kesatuan lintas iman.
“Gereja, masjid, maupun tempat ibadah lainnya tidak hanya menjadi ruang ritual, tetapi harus menjadi rumah besar kemanusiaan. Rumah ibadah diharapkan memberikan dampak sosial nyata dalam menyatukan masyarakat,” kata Nasaruddin Umar dalam pidatonya di acara ibadah kebaktian tahun baru Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (1/1/2025).
Menag mencontohkan semangat kemanusiaan tersebut melalui aksi solidaritas saat bencana alam melanda wilayah Sumatera baru-baru ini. Ia menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Papua, di mana persaudaraan sesama anak bangsa terjalin meski terpisah jarak geografis dan perbedaan keyakinan.
“Saya menyaksikan ibu-ibu di daerah paling timur Indonesia mengumpulkan bantuan dan berdoa khusyuk untuk saudaranya di ujung paling barat Indonesia yang tertimpa musibah. Inilah wajah Indonesia yang sejati,” ujarnya.
Selain itu, Prof Nasaruddin Umar juga mengistilahkan bahwa Indonesia sebagai “sekeping surga yang diturunkan Tuhan lebih awal” ke bumi. Sehingga keberkatan ini harus diejawantahkan oleh seluruh umat beragama terlepas karena adanya perbedaan suku, agama, ras, golongan.
“Kita adalah lukisan Tuhan yang sangat indah yang tidak boleh ada yang mengacak-acaknya,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Menag juga menekankan tentang kerukunan umat beragama di Indonesia. Baginya, menjadi warga negara Indonesia seharusnya patut untuk disyukuri bersama. Sebab di saat situasi global menghadapi krisis energi dan ekonomi, Indonesia dinilai tetap stabil berkat persatuan yang kuat.
Ia menilai gotong royong tersebut mampu mempercepat pemulihan pascabencana. Semangat persaudaraan ini, menurut Menag, juga terwujud melalui “Terowongan Silaturahmi” yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Menag menjelaskan infrastruktur tersebut merupakan penegasan bahwa tidak boleh ada jarak di antara umat beragama.
Menutup sambutannya, Menag menyimpulkan bahwa ikatan persaudaraan, mulai dari fungsi rumah ibadah hingga solidaritas sosial yang harus didasari oleh rasa cinta. Oleh karena itu, Kementerian Agama terus menggencarkan “Kurikulum Berbasis Cinta” dan “Ekoteologi” sebagai pilar moderasi beragama.
“Semua agama intinya adalah cinta. Jika ada yang mengajarkan kebencian, pada hakikatnya itu bertentangan dengan agama itu sendiri,” pungkasnya.


