JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia memang berada dalam ambang yang cukup baik, namun itu terjadi di kuartal kedua tahun 2025.
Hanya saja situasinya tidak semakin baik di kuartal ketiga, di mana ada faktor yang menjadi pemicu pelambatan ekonomi nasional, bahkan di angka 4,9 persen, yang artinya mengalami depresi dari periode sebelumnya.
“Anda banyak menyaksikan kan apakah angkat triwulan kedua pertumbuhannya betul 5,12 persen, itu betul sekitar segitu. Tapi sejak bulan Mei, Juni, Juli, Agustus ke sini, ada indikasi ada sesuatu yang nggak lancar sehingga ekonomi cenderung melambat di triwulan ketiga,” kata Purbaya di Istana Negara Jakarta, Senin (8/9/2025).
Situasi itu yang dinilainya ikut menyumbang kondisi buruk nasional beberapa waktu yang lalu, di mana gelombang demonstrasi merebak dan banyak orang terpancing untuk ikut melakukan aksi unjuk rasa.
“Itu makanya ketika ada demo sedikit, orang gampang terpacu. Jadi itu fondasinya ada faktor ekonomi juga, itu salah satu inidkator pertama,” ujarnya.
Karena dalam perspektifnya, masyarakat tidak akan banyak melakukan demonstrasi ketika ekonomi Indonesia dalam kondisi stabil. Sehingga inilah yang menjadi tantang tersendiri bagi Purbaya untuk mengatasi perlambatan ekonomi yang dimaksud.
“Kalau orang kerjanya banyak, ini banyak duit, ngapain demo, capek. Kira-kira itu, tapi ini dalam level yang baru awal,” tandasnya.
Purbaya memberikan keyakinan kepada publik bahwa ia akan bekerja secara maksimal dengan segudang pengalamannya dalam mendukung tata kelola ekonomi nasional, bahkan sejak era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), termasuk era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dalam upaya melepaskan diri dari sengkarut pandemi Covid-19.
“Jadi nggak usah takut. Kita punya senjata cukup banyak, uang cukup banyak, hanya belum dibelanjakan secara optimal,” tegasnya.


