Lahan Bekas Karhutla Bakal Jadi Kebun Sawit? Begini Jawaban Wamenko Pangan

0 Shares
Ukuran Teks:
20
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nasib lahan bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah Indonesia menjadi sorotan pemerintah serta masyarakat. Namun, salah satu pertanyaan yang juga muncul adalah apakah kawasan yang terbakar nantinya akan dimanfaatkan kembali menjadi perkebunan kelapa sawit.

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menepis isu tersebut serta menilai tanaman seperti sawit tidak ideal dikembangkan pada kawasan gambut, terutama di Kalimantan Tengah, yang telah mengalami degradasi serius. Kondisi ekosistem tersebut membuat potensi kebakaran dapat terus berulang jika pengelolaan lahannya tidak memperhatikan karakteristik gambut.

“Tanaman-tanaman seperti yang disebutkan tadi (sawit) sepertinya tidak ideal untuk ditanam di Kalimantan Tengah karena potensi kebakaran hutannya masih sangat besar,” kata Hanif saat ditemui awak media, di Jakarta Barat, dikutip Holopis.com, Sabtu (7/11).

Hanif menjelaskan, Kalimantan Tengah, khususnya di Palangka Raya, memiliki karakteristik ekosistem yang berbeda dari wilayah lain. Sebagian wilayahnya merupakan lahan gambut yang telah mengalami kerusakan dengan kedalaman tiga meter, sehingga penanganan karhutla membutuhkan pendekatan khusus.

“Di Kalimantan Tengah, kita berhadapan dengan gambut yang lebih dari 3 meter. Sehingga penanganannya tidak bisa kita tumpukan pada kegiatan-kegiatan pemadaman dengan cara-cara konvensional,” jelasnya.

Wamenko Pangan Hanif Holopis
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq. [Foto: Holopis.com/Vhina]

Menurut Hanif, gambut yang semula memiliki sifat hidrofilik atau mampu menyerap air kini berubah menjadi hidrofobik atau menolak air. Perubahan tersebut membuat lahan lebih mudah mengering ketika cuaca panas dan meningkatkan risiko kebakaran.

“Setiap kali panas sedikit saja, maka sifat airnya sudah tidak berfungsi. Jadi gambut yang ada di Palangka Raya bersifat hidrofobik, jadi dia menolak air. Asalnya dia hidrofilik yang menyerap air,” jelasnya.

Pemerintah Siapkan Rewetting hingga Revegetasi Gambut

Hanif mengaitkan kerusakan ekosistem gambut di Kalimantan Tengah dengan proyek pengembangan lahan gambut sejuta hektare pada era Orde Baru. Menurutnya, pembangunan drainase dalam proyek tersebut menyebabkan pengeringan gambut secara serius.

“Nah begitu oleh kegiatan tahun yang lalu (1995) kita menggenjot proyek lahan sejuta hektar waktu itu, terjadi drainase yang cukup serius sehingga kering dan gambut kering tidak akan balik,” ungkapnya.

Untuk memulihkan kawasan yang mengalami degradasi tersebut, pemerintah akan menerapkan tiga pendekatan, yakni pembasahan kembali atau rewetting, revegetasi dengan tanaman yang sesuai dengan ekosistem gambut, serta revitalisasi mata pencaharian masyarakat.

Rewetting dilakukan dengan mengembalikan kondisi basah pada lahan gambut agar tidak mudah terbakar. Sementara itu, revegetasi diarahkan pada jenis tanaman yang mampu tumbuh di kawasan gambut terdegradasi.

“Jadi lebih baik kita lakukan kegiatan rewetting dengan perendaman kembali, kemudian revegetasi dengan jenis-jenis yang mampu tumbuh pada kawasan ekosistem gambut yang terdegradasi, kemudian revitalisasi mata pencaharian dengan membangun pola-pola sistem pertanian yang ramah gambut yang dilakukan oleh masyarakat desa melalui masyarakat desa peduli gambut,” paparnya.

Hanif menambahkan, pemerintah akan menyiapkan desain penanganan secara lebih terperinci bersama Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional. Setelah kebakaran berakhir, pemerintah juga berencana mempermanenkan sumber air dari sumur bor dan kanal melalui semenisasi.

Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Vhina Noviyanti
Ronalds Petrus Gerson
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Ronalds Petrus Gerson
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!

berita serupa

Rubrik Sama