Ia mengaitkan pembahasan tersebut dengan kasus penyadapan komunikasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan sejumlah menteri yang pernah menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan keterlibatan intelijen Australia.
Teguh juga menyebut adanya perangkat interceptor berukuran lebih kecil yang dapat ditempatkan di berbagai lokasi untuk memantau percakapan di sekitar perangkat tersebut.
Meski demikian, ia menilai penyadapan tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Akses terhadap informasi juga dapat diperoleh melalui orang-orang terdekat yang memiliki kesempatan mendengar langsung percakapan seseorang.
Di akhir penjelasannya, Teguh menegaskan bahwa tulisannya bukan untuk mendukung atau menolak pihak tertentu dalam polemik politik penyadapan. Ia menyebut materi tersebut sebagai berbagi pengetahuan yang masih memiliki keterbatasan.
“Tulisan ini bukan untuk pro atau kontra terhadap isu politiknya. Ini murni share pengetahuan yang belum tentu benar, belum tentu update, belum tentu lengkap, dan sangat mungkin salah,” tulisnya.
Teguh menutup tulisannya dengan sindiran bahwa masyarakat biasa tidak perlu terlalu khawatir menjadi sasaran penyadapan.
“Bagaimana caranya agar kita tidak disadap? Cukup jadi orang biasa saja. Kalaupun disadap, isi percakapannya seputar notifikasi cicilan honda beat atau SMS mobile banking tentang masuknya gaji mungil kita,” pungkasnya.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!