Pandangan tersebut tercermin dari penekanannya terhadap kemampuan para calon presiden pada Pilpres 2024 dalam membangun komunikasi dengan pemimpin dunia. Budiman membandingkan Prabowo dengan dua kandidat lainnya, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, dalam konteks kepercayaan diri ketika berhadapan dengan pemimpin negara besar di tengah kondisi dunia yang sedang bergejolak.
“Dalam dunia sedang bergolak, siapa dari calon-calon presiden ini yang ketika berbicara dengan Xi Jinping itu bisa tepuk-tepukkan punggung dengan santai tanpa rasa minder? Siapa dari calon-calon pemimpin ini yang ketika ketemu Putin tidak nunduk-nunduk? Ketemu Trump tidak nunduk-nunduk, tapi ngobrol dengan santai, siapa?” ujarnya.
Melalui pernyataan tersebut, Budiman menekankan pentingnya kepercayaan diri dalam diplomasi internasional. Menurut dia, pemimpin Indonesia perlu mampu menjalin komunikasi secara setara dengan negara-negara besar tanpa mengabaikan kepentingan nasional.
Ia juga menilai pendekatan diplomasi yang cair dapat membuka ruang komunikasi untuk membahas persoalan antarnegara. Masalah yang terlihat rumit terkadang dapat mulai dicarikan jalan keluar melalui komunikasi langsung dan pertemuan informal.
“Persoalan yang susah, kadang-kadang solusinya mudah kalau soal eksistensi, mudah, ternyata hanya perlu ngopi bareng, diplomasi sederhana,” tuturnya.
Bagi Budiman, tradisi kepemimpinan yang perlu dihidupkan kembali adalah kemampuan untuk tetap berpihak kepada rakyat kecil sekaligus percaya diri dalam pergaulan internasional. Ia menilai kedua karakter tersebut penting agar pembangunan di dalam negeri dan posisi Indonesia di panggung dunia dapat berjalan beriringan.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...