HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2026-2032, Friderica Widyasari Dewi melaporkan bahwa kredit perbankan Indonesia tumbuh 13,69 persen, yang disebutnya sebagai pertumbuhan tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Di tengah tekanan ekonomi global, pertumbuhan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk mendukung perekonomian nasional.
Dalam laporannya kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Friderica menyampaikan bahwa kondisi perekonomian global masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari faktor geopolitik, inflasi tinggi, hingga suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer.
“Sebagaimana kami kemarin laporkan kepada bapak bahwa saat ini perekonomian global sedang dalam tekanan, Bapak. Dengan adanya faktor geopolitik, inflasi yang tinggi, suku bunga yang higher for longer, ini tentu saja membuat suasana menjadi sangat challenging bagi seluruh negara di Indonesia,” kata Friderica dalam Rakornas Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah Tahun 2026, JIEXPO Convention Centre, Jakarta Pusat, Kamis 22 Oktober 2026.
Meski demikian, ia menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia tumbuh 5,4 persen pada semester I 2026. Sementara itu, sektor jasa keuangan disebutnya berada dalam kondisi yang resilien.
“Namun demikian dengan kepemimpinan Bapak ekonomi Indonesia tumbuh 5,4% di semester I 2026, dan sektor jasa keuangan dapat kami laporkan Bapak dalam keadaan resilian, dapat kami laporkan kepada Bapak bahwa kredit di sektor perbankan tumbuh 13,69 persen, Bapak, dan ini tertinggi dalam 10 tahun terakhir,” ujarnya.
Friderica menilai pertumbuhan kredit tersebut menjadi modalitas penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Dana Pihak Ketiga Tembus Rp10.400 Triliun
Selain pertumbuhan kredit, Friderica melaporkan bahwa dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga tumbuh dua digit. Nilai DPK tersebut, menurutnya, telah mencapai sekitar Rp10.400 triliun.
“Dana pihak ketiga juga tumbuh, Bapak, double digit, sehingga sekarang dana pihak ketiga sekitar Rp10.400 triliun. Dan dengan modal yang sangat kuat dan NPL yang sangat terjaga,” ucapnya.
Ia turut menyoroti kondisi permodalan perbankan dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang disebut masih terjaga.
Meski demikian, penilaian menyeluruh terhadap kesehatan industri perbankan tetap perlu melihat data resmi mengenai permodalan, kualitas kredit, likuiditas, serta perkembangan risiko di sektor keuangan.
Di luar sektor perbankan, Friderica juga menyinggung upaya reformasi industri keuangan nonbank, khususnya pasar modal Indonesia.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Presiden atas dukungan terhadap agenda reformasi pasar modal yang dijalankan bersama jajaran dan komunitas pasar modal.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...