Setelah bertahun-tahun menjadi pemimpin pasar, perusahaan diyakini menganggap keterlambatan masuk ke era smartphone masih bisa dikejar dengan mengandalkan kekuatan desain dan hardware.
“Nokia melebih-lebihkan kekuatan mereknya, dan percaya bahwa meskipun terlambat memasuki pasar smartphone, mereka akan mampu mengejar ketertinggalan dengan cepat. Bahkan, lama setelah iPhone dirilis, Nokia terus bersikeras bahwa desain hardware yang unggul akan memikat pengguna,” tambah New Yorker.
Masalahnya, perubahan di industri smartphone berlangsung jauh lebih cepat.
Ketika Nokia mulai mengejar, Apple dan Android sudah membangun momentum. Pada 2012, Nokia akhirnya kehilangan posisi sebagai produsen handphone terbesar dunia, setelah bertahun-tahun berada di puncak.
Dari Raja Handphone Jadi Bisnis Microsoft
Tekanan pasar akhirnya membawa Nokia ke keputusan besar.
Pada 2013, Microsoft mengumumkan pembelian bisnis perangkat dan layanan Nokia dengan nilai sekitar USD 7,2 miliar.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu simbol paling mencolok dari perubahan industri handphone: perusahaan yang pernah menjadi raja pasar justru harus menjual bisnis handphone-nya ketika era smartphone mulai dikuasai oleh pemain dengan pendekatan software dan ekosistem.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...