HOLOPIS.COM, JAKARTA — Tugu Hotels & Restaurants resmi menghadirkan pengalaman bersantap unik bertajuk “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” (My Forefather, the Great Seafarer).
Program kuliner ini mengajak para penikmat hidangan menelusuri kembali sejarah kejayaan Nusantara melalui jejak perjalanan tradisi sungai dan laut.
Keunikan utama dari pengalaman bersantap ini terletak pada penyajian setiap sajian yang ditata anggun di atas rakit bambu yang dibuat secara khusus.
Simbol bersahaja tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan besar bangsa Indonesia berawal dari sarana transportasi yang paling sederhana.
Rangkaian menu ini sekaligus disajikan sebagai bentuk penghormatan bagi sungai dan laut yang menyatukan ribuan pulau di kepulauan Nusantara.
Dari pesisir Flores, hadir sajian Molo Weti Nakeng yang terinspirasi dari tradisi menyelam serta upacara penghormatan masyarakat lokal kepada laut.
Wilayah Jawa Timur diwakili oleh Bebek Ireng Ungkep, sebuah hidangan khas yang merepresentasikan resep warisan lintas generasi.
Melengkapi kelezatan dari Jawa Timur, hadir pula hidangan kopi segar hasil panen Kawisari Plantation dari lereng Gunung Kelud.
Perjalanan rasa berlanjut ke Blitar melalui Mangasati, hidangan legendaris yang dikenang sebagai salah satu menu favorit Presiden Soekarno.
Sementara dari Bali, sajian Lawar Embung dihadirkan dengan mempertahankan keaslian resep desa berbasis kelapa, rempah, dan hasil bumi lokal.
Masyarakat pesisir Lombok turut diwakili melalui Berengkes Laut Pantai Sire, berupa olahan ikan berbalut daun pisang yang dimasak perlahan.
Kota Jakarta yang kaya akan sejarah pelabuhan menghadirkan Nasi Kecombrang sebagai representasi dari titik pertemuan berbagai kebudayaan.
Kombinasi dari seluruh hidangan khas daerah ini seolah menyusun sebuah peta rasa Nusantara yang kaya akan keanekaragaman kuliner.


