Menurut Teddy, hal tersebut merupakan tindak lanjut setelah Prabowo melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah pada tahun lalu.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo menemukan sejumlah buku pelajaran yang kondisinya sudah rusak. Tak hanya itu, ukuran huruf dalam beberapa buku juga dinilai terlalu kecil sehingga menyulitkan siswa ketika membaca.
“Sehingga atas dasar itu, beliau cek buku pelajaran dari SD hingga SMA. Bapak Presiden cek satu per satu, setelah itu beliau meminta agar buku-buku tersebut dibandingkan dengan buku dari negara-negara tetangga,” jelasnya.
Pemerintah kini menindaklanjuti arahan tersebut melalui kajian lintas kementerian dan lembaga. Perbandingan dengan buku ajar negara ASEAN diharapkan bisa menjadi salah satu pijakan untuk memperbaiki kualitas materi pembelajaran bagi siswa Indonesia.


