Dampaknya terasa hingga ke perusahaan gula nasional seperti PT Perkebunan Nusantara (PTPN), yang disebut mengalami kerugian sekitar Rp600 miliar karena gula produksi dalam negeri kalah bersaing.
Petani tebu juga menghadapi tekanan akibat harga hasil sampingan tebu atau molase yang turun cukup tajam.
Harga molase disebut turun dari sekitar Rp1.900 menjadi Rp1.000 per liter pada Maret 2026.
Bahkan, petani tebu di Jawa Timur sempat mengancam melakukan mogok karena hasil panen menumpuk dan belum terserap pasar.
Pemerintah memperkirakan gula petani yang belum terserap mencapai sekitar 1,6 juta ton, dengan potensi kerugian ekonomi mencapai Rp4 triliun hingga Rp7 triliun.
Dengan kondisi tersebut, tantangan terbesar swasembada gula Indonesia bukan hanya menanam lebih banyak tebu.
Pemerintah juga perlu memastikan petani mendapat keuntungan, pabrik lebih modern, dan seluruh rantai industri berjalan lebih kuat dari hulu hingga hilir.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...