“Seluruh pelanggan dan awak pesawat berada dalam kondisi aman,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan maskapai, penumpang WN China yang duduk di kursi 21E sebelumnya telah diperingatkan agar tidak menggunakan power bank untuk mengisi daya ponsel selama penerbangan berlangsung.
Namun, penumpang tersebut diduga tetap mengabaikan instruksi awak kabin.
Sekitar 20 hingga 30 menit setelah pesawat lepas landas, power bank yang sedang digunakan mengalami korsleting hingga mengeluarkan percikan api disertai asap tebal.
Situasi itu sempat membuat penumpang panik karena asap memenuhi sebagian area kabin.
Beruntung, awak kabin yang telah mendapatkan pelatihan penanganan keadaan darurat bergerak cepat memadamkan sumber api sebelum membahayakan keselamatan penerbangan.
Insiden tersebut kembali mengingatkan pentingnya mematuhi setiap instruksi keselamatan yang diberikan kru pesawat.
Meski terlihat sepele, penggunaan perangkat elektronik yang tidak sesuai aturan dapat menimbulkan risiko serius selama penerbangan.
Larangan menggunakan power bank untuk mengisi daya ponsel selama penerbangan bukan tanpa alasan.
Power bank menggunakan baterai lithium-ion yang memiliki potensi mengalami thermal runaway, yakni kondisi ketika suhu baterai meningkat secara drastis akibat korsleting, kerusakan sel, atau kesalahan penggunaan.
Apabila kondisi tersebut terjadi, baterai dapat mengeluarkan panas berlebih, asap, bahkan memicu kebakaran.
Di dalam kabin pesawat yang merupakan ruang tertutup, asap dari baterai lithium-ion juga dapat mengganggu pernapasan penumpang dan mengurangi jarak pandang kru dalam menangani keadaan darurat.
Karena alasan itulah banyak maskapai penerbangan melarang penggunaan power bank untuk mengisi daya perangkat elektronik saat pesawat sedang terbang.


