JAKARTA, Holopis.com – Dokter Boyke menegaskan pendidikan seks wajib diajarkan sejak dini untuk melindungi anak, menjaga kesehatan reproduksi, dan membangun keluarga harmonis.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekaligus seksolog, Dokter Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS, menegaskan bahwa pendidikan seks sudah seharusnya menjadi bagian dari pendidikan yang diberikan kepada anak sejak dini.
Menurutnya, pemahaman yang benar mengenai tubuh, kesehatan reproduksi, hingga batasan diri dapat menjadi bekal penting untuk melindungi anak sekaligus membangun generasi yang lebih sehat.
Pernyataan tersebut disampaikan dr Boyke dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube Raymond Chin.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang menganggap pendidikan seks sebagai topik yang tabu, padahal anggapan tersebut justru membuat banyak anak dan remaja tumbuh tanpa bekal pengetahuan yang memadai.
Menurut Dokter Boyke, pendidikan seks bukanlah mengajarkan anak untuk melakukan aktivitas seksual.
Sebaliknya, pendidikan seks bertujuan memberikan informasi yang benar mengenai fungsi tubuh, kesehatan reproduksi, tanggung jawab, serta bagaimana menjaga diri dari berbagai bentuk kekerasan maupun pelecehan seksual.
“Selama ini banyak orang tua yang salah paham. Pendidikan seks bukan mengajarkan seks bebas, tetapi memberikan pemahaman yang benar tentang tubuh, kesehatan reproduksi, batasan diri, dan tanggung jawab dalam hubungan,” jelasnya.
Ia mengatakan, kurangnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi kerap menimbulkan berbagai persoalan di masyarakat.
Mulai dari munculnya mitos yang keliru, kesalahan memahami perubahan tubuh saat pubertas, hingga rendahnya kemampuan seseorang dalam menjaga kesehatan reproduksi.
Tak hanya itu, minimnya pengetahuan juga dapat berdampak pada kehidupan rumah tangga ketika seseorang telah menikah.
Banyak pasangan mengalami kesulitan berkomunikasi mengenai kebutuhan dan kesehatan reproduksi karena sejak kecil tidak pernah mendapatkan pendidikan yang tepat.
Menurut dokter Boyke, komunikasi menjadi salah satu fondasi utama dalam membangun keluarga yang harmonis.
Pasangan suami istri perlu mampu berbicara secara terbuka mengenai harapan, kebutuhan, hingga kondisi kesehatan tanpa rasa malu.
“Banyak persoalan rumah tangga sebenarnya bisa diminimalkan apabila pasangan memiliki pemahaman yang cukup dan mampu berkomunikasi dengan sehat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan seks sebagai bagian dari persiapan menuju pernikahan.
Selain kesiapan finansial dan mental, calon pasangan juga perlu memahami kesehatan reproduksi agar mampu membangun rumah tangga yang sehat dan bertanggung jawab.
Dalam kesempatan lain, dr Boyke mengungkapkan terdapat tiga hal penting yang perlu dipersiapkan anak muda sebelum menikah.
Pertama adalah memiliki rasa percaya diri serta kesiapan mental bahwa pernikahan merupakan bentuk ibadah dan tanggung jawab besar dalam membangun keluarga.
Kedua, kesiapan finansial. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya bekerja keras, tetapi juga harus mampu bekerja secara cerdas dan kreatif agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga di masa depan.
Sementara yang ketiga adalah memastikan kondisi kesehatan berada dalam keadaan baik sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Kondisi fisik yang prima dinilai akan mendukung kehidupan keluarga yang lebih berkualitas.
Selain menyasar pasangan dewasa, dr Boyke menekankan bahwa pendidikan seks justru harus dimulai sejak usia anak dengan materi yang disesuaikan berdasarkan tahap perkembangan mereka.
Ia menilai orang tua dan guru memiliki peran paling penting dalam memberikan edukasi tersebut.
Anak perlu dikenalkan mengenai bagian tubuh yang bersifat pribadi, memahami batasan ketika berinteraksi dengan orang lain, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan apabila mengalami tindakan yang tidak pantas.
Dengan pengetahuan tersebut, anak diharapkan mampu melindungi dirinya sendiri sekaligus lebih berani menyampaikan kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya apabila menghadapi situasi berbahaya.
Menurut dr Boyke, pendidikan seks sejak dini juga menjadi salah satu langkah preventif dalam mencegah kekerasan seksual terhadap anak.
Anak yang memahami tubuhnya akan lebih mudah mengenali perilaku yang tidak wajar sehingga peluang menjadi korban dapat ditekan.
Di sisi lain, edukasi yang benar juga membantu remaja menghadapi masa pubertas dengan lebih tenang.
Mereka dapat memahami perubahan fisik maupun emosional yang terjadi tanpa harus mencari informasi dari sumber yang belum tentu benar.
Dr Boyke mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat anak sangat mudah memperoleh informasi melalui internet dan media sosial.
Karena itu, apabila orang tua tidak memberikan penjelasan yang benar, anak berpotensi memperoleh informasi yang keliru dari berbagai sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Ia berharap masyarakat mulai mengubah cara pandang terhadap pendidikan seks.
Menurutnya, materi tersebut merupakan bagian dari pendidikan kesehatan yang memiliki manfaat jangka panjang, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Melalui pendidikan seks yang tepat, anak dapat tumbuh dengan pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi, memiliki kemampuan menjaga diri, serta membangun hubungan yang sehat ketika dewasa nanti.
Bagi pasangan yang telah menikah, Dokter Boyke juga mengingatkan pentingnya saling menerima kekurangan pasangan.
Ia menilai setiap individu memiliki karakter yang berbeda sehingga tidak seharusnya dipaksa berubah sesuai keinginan pasangannya.
Dengan edukasi yang benar sejak dini, komunikasi yang sehat dalam keluarga, serta pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, dokter Boyke optimistis kualitas kehidupan keluarga Indonesia dapat terus meningkat.
Menurutnya, pendidikan seks bukan sekadar membahas persoalan reproduksi, melainkan investasi penting yang dapat melindungi anak, mencegah berbagai persoalan di masa depan, sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat, bertanggung jawab, dan siap membangun keluarga yang harmonis.

