JAKARTA, Holopis.com – Banyak pria salah paham, squirting bukan bukti wanita mencapai orgasme. Simak penjelasan dokter soal fakta medis dan mitos yang sering dipercaya.
Anggapan bahwa squirting merupakan tanda pasti seorang wanita telah mencapai orgasme ternyata tidak sepenuhnya benar.
Meski sering ditampilkan dalam film dewasa dan dianggap sebagai indikator kepuasan seksual, para ahli menegaskan bahwa squirting dan orgasme merupakan dua hal yang berbeda.
Pemahaman keliru ini masih banyak dipercaya, terutama oleh pria.
Akibatnya, tidak sedikit pasangan yang menjadikan squirting sebagai tolok ukur keberhasilan saat berhubungan intim, padahal kondisi tersebut tidak selalu dialami setiap wanita.
Mengutip WebMD, squirting adalah keluarnya cairan dalam jumlah cukup banyak melalui uretra yang dapat terjadi pada sebagian wanita saat mengalami rangsangan seksual atau orgasme.
Cairan tersebut dapat mengandung urin yang sangat encer serta cairan lain yang berasal dari kandung kemih.
Namun, fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang wajib terjadi pada setiap wanita.
Banyak wanita dapat merasakan orgasme tanpa mengalami squirting sama sekali.
Hal serupa juga dijelaskan dalam penelitian yang dipublikasikan di PubMed melalui National Library of Medicine.
Penelitian itu menyebutkan bahwa squirting dan ejakulasi perempuan merupakan dua respons fisiologis yang berbeda, sehingga tidak bisa disamakan.
Dokter spesialis andrologi sekaligus edukator kesehatan, dr. Jefry Tribowo, mengatakan masih banyak masyarakat yang salah memahami fenomena tersebut.
Menurutnya, setiap wanita memiliki pengalaman orgasme yang berbeda-beda.
Sensasi yang dirasakan pun dapat berubah pada setiap hubungan seksual, sehingga tidak ada satu indikator yang dapat dijadikan patokan mutlak.
Ia menjelaskan bahwa ada wanita yang mengalami squirting saat berhubungan intim, tetapi ada pula yang tidak pernah mengalaminya meski telah mencapai kepuasan seksual secara maksimal.
Kondisi tersebut dipengaruhi banyak faktor, mulai dari suasana hati, kondisi psikologis, hingga perubahan hormon dalam tubuh.
Karena itu, tidak mengalami squirting bukan berarti seorang wanita gagal mencapai orgasme ataupun tidak menikmati hubungan seksual.
dr. Jefry juga menyoroti anggapan sebagian pria yang mengaitkan squirting dengan keberhasilan memuaskan pasangan.
Menurutnya, persepsi tersebut justru dapat memberikan tekanan psikologis bagi wanita.
Tidak sedikit wanita akhirnya merasa tubuhnya bermasalah atau menganggap dirinya tidak mampu memuaskan pasangan hanya karena tidak mengalami squirting.
Padahal, menurut dr. Jefry, kondisi tersebut merupakan variasi normal yang dialami setiap wanita dan tidak perlu dikhawatirkan.
Ia bahkan mengingatkan bahwa tekanan untuk selalu mengalami squirting bisa membuat sebagian wanita memilih memalsukan kondisi tersebut demi memenuhi ekspektasi pasangan.
Oleh karena itu, tujuan utama hubungan seksual seharusnya bukan mengejar squirting, melainkan membangun komunikasi, kenyamanan, dan kepuasan bersama antara kedua pasangan.
Dengan pemahaman yang benar, pasangan diharapkan tidak lagi menjadikan squirting sebagai satu-satunya ukuran orgasme wanita.
Sebab, kepuasan seksual bersifat individual dan dapat dirasakan dengan cara yang berbeda pada setiap orang.

