Aurelie Moeremans Murka Korban Penyekapan Bandung Jadi Sasaran Victim Blaming

0 Shares

JAKARTA, Holopis.com – Pernah terjebak toxic relationship, Aurelie Moeremans mengecam victim blaming terhadap korban penyekapan Bandung sambil mengenang trauma masa lalunya.

Aktris Aurelie Moeremans mengecam maraknya aksi victim blaming terhadap Yuvita (YTR), perempuan asal Bandung yang diduga menjadi korban penyekapan dan penganiayaan oleh kekasihnya selama tiga tahun.

Melalui unggahan di media sosial, Aurelie mengaku geram melihat sebagian warganet justru menyalahkan korban di tengah mencuatnya kasus tersebut.

Kasus yang menyita perhatian publik itu memunculkan beragam komentar di media sosial.

Selain simpati kepada korban, tidak sedikit warganet yang mempertanyakan alasan Yuvita bertahan dalam hubungan tersebut.

Narasi seperti “terlalu bucin” hingga tudingan terhadap kehidupan pribadi korban pun ramai bermunculan.

- Advertisement -

Bagi Aurelie, komentar semacam itu menunjukkan masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai pola kekerasan dalam hubungan yang bersifat manipulatif.

Ia bahkan mengaku mengalami insomnia setelah membaca banyak komentar yang menyudutkan korban.

“Parahnya lagi ada yang bawa-bawa nama aku. Katanya kalau Aurelie masih di bawah umur waktu itu, kalau ini kan sudah dewasa. Tolong jangan bawa-bawa nama aku. Orang yang dimanipulasi atau dikontrol itu bukan hanya anak di bawah umur. Aku relate banget sama Yuvita karena polanya mirip,” tulis Aurelie melalui akun Instagram pribadinya.

Pengalaman pribadi menjadi alasan Aurelie begitu vokal membela korban.

Ia mengaku pernah berada dalam hubungan yang penuh manipulasi dan kekerasan hingga nyaris kehilangan nyawa.

Menurut Aurelie, hubungan yang tidak sehat umumnya tidak langsung dipenuhi kekerasan.

Pelaku biasanya memulai dengan sikap penuh perhatian dan kasih sayang sehingga korban merasa aman dan percaya.

Setelah ikatan emosional terbentuk, pelaku perlahan mengisolasi korban dari keluarga maupun teman-temannya.

Ketika korban telah kehilangan dukungan dari lingkungan terdekat, pelaku semakin mudah mengendalikan berbagai aspek kehidupan korban.

Mulai dari kondisi psikologis, keuangan, hingga kebebasan bergerak.

Dalam banyak kasus, kontrol tersebut kemudian berkembang menjadi kekerasan fisik dan penyiksaan yang membuat korban merasa tidak memiliki jalan keluar.

Aurelie menilai pola tersebut sangat mirip dengan dugaan yang dialami Yuvita.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak lagi menghakimi korban hanya karena tetap bertahan dalam hubungan yang berbahaya.

Menurutnya, korban kekerasan sering kali mengalami manipulasi psikologis atau gaslighting dalam waktu yang lama sehingga kehilangan rasa percaya diri dan kemampuan mengambil keputusan.

Bahkan, tidak sedikit korban yang akhirnya percaya bahwa kekerasan yang mereka alami merupakan kesalahan mereka sendiri.

Pengalaman kelam itu pernah diceritakan Aurelie dalam bukunya berjudul Broken Strings.

Dalam buku tersebut, ia mengisahkan bagaimana dirinya berhasil keluar dari hubungan beracun setelah mengalami peristiwa yang hampir merenggut nyawanya.

“Yang sudah baca Broken Strings pasti tahu bahwa aku berhasil keluar dari toxic relationship setelah malam sebelumnya aku hampir diajak mati bareng di tol. Jadi maut benar-benar sudah di depan mata,” kenangnya.

Melalui pengalamannya, Aurelie berharap masyarakat lebih memahami kondisi psikologis korban kekerasan dalam hubungan.

Ia mengajak publik untuk tidak menjadi penonton pasif apabila melihat tanda-tanda seseorang mengalami kontrol atau kekerasan dari pasangannya.

Menurutnya, dukungan dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar sangat penting agar korban memiliki keberanian untuk keluar dari situasi yang membahayakan.

Ia juga mengingatkan bahwa korban sering kali tidak mampu meminta pertolongan karena telah mengalami tekanan mental yang berkepanjangan.

Pernyataan Aurelie mendapat dukungan dari banyak pengguna media sosial.

Warganet menilai pengalamannya menjadi pengingat bahwa toxic relationship dapat dialami siapa saja, tanpa memandang usia, status, maupun latar belakang.

Banyak pula yang berharap kasus penyekapan yang dialami Yuvita dapat diproses secara tuntas sehingga korban memperoleh keadilan sekaligus perlindungan yang layak.

Kasus ini kembali memunculkan diskusi mengenai pentingnya menghentikan budaya victim blaming.

Alih-alih menyalahkan korban, masyarakat diharapkan lebih mengedepankan empati serta mendorong korban kekerasan untuk mendapatkan bantuan dan pendampingan yang dibutuhkan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU