Kenaikan Pertamax Harus Dilihat dalam Kerangka Menjaga APBN dan Masa Depan Indonesia

0 Shares

JAKARTA, HOLIPIS.COM – Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi, menilai polemik kenaikan harga Pertamax dan aksi mahasiswa yang berlangsung pada 12 Juni 2026 perlu disikapi secara proporsional dengan melihat tantangan ekonomi global yang sedang dihadapi Indonesia.

Menurut Haidar, pemerintah saat ini tidak hanya menghadapi persoalan menjaga stabilitas ekonomi jangka pendek, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan pembangunan nasional melalui berbagai program strategis yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat.

“Bangsa yang besar tidak boleh terjebak hanya pada perdebatan tentang berapa rupiah harga energi hari ini. Yang jauh lebih penting adalah apakah setiap rupiah yang dibelanjakan negara mampu memperkuat ketahanan ekonomi, meningkatkan kualitas manusianya, dan membangun kemandirian bangsa untuk puluhan tahun ke depan,” kata Haidar Alwi dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa APBN bukan sekadar instrumen untuk menjaga harga barang dan jasa, melainkan alat negara untuk membiayai pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, hingga penguatan ekonomi desa.

Karena itu, Haidar menilai berbagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), perlu dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang.

“Negara tidak dibangun oleh anggaran yang kecil atau besar. Negara dibangun oleh kemampuan mengubah anggaran menjadi produktivitas, inovasi, kualitas manusia, dan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

- Advertisement -

Menurut Haidar, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya bertujuan menyediakan makanan bagi anak-anak sekolah, tetapi juga membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM.

Sementara itu, Koperasi Desa Merah Putih dinilai sebagai langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan memperluas aktivitas ekonomi hingga ke tingkat desa.

Ia mengingatkan bahwa berbagai negara maju juga membangun kekuatannya melalui investasi besar pada pendidikan, kesehatan, dan kualitas manusia, meski hasilnya baru terlihat dalam jangka panjang.

“Bangsa yang hanya sibuk memperdebatkan biaya sering lupa menghitung nilai investasi. Padahal sejarah membuktikan bahwa negara maju lahir dari keberanian membiayai manusia, ilmu pengetahuan, produktivitas, dan masa depan jauh sebelum hasilnya terlihat,” jelasnya.

Haidar juga mengajak masyarakat memahami bahwa tekanan terhadap sektor energi saat ini tidak lepas dari dinamika geopolitik dan geoekonomi global yang memengaruhi harga minyak dunia.

Menurutnya, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara subsidi energi, kesehatan fiskal negara, serta pembiayaan berbagai program pembangunan yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia menilai langkah pemerintah memperkuat ketahanan energi melalui hilirisasi, pembangunan infrastruktur, pengembangan industri nasional, dan pengurangan ketergantungan impor merupakan kebijakan yang tepat untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia.

“Saya menghormati aspirasi mahasiswa sebagai bagian dari demokrasi. Namun pada saat yang sama, kita juga perlu melihat tantangan yang sedang dihadapi bangsa secara lebih utuh. Yang sedang dipertaruhkan bukan hanya harga energi hari ini, tetapi kemampuan Indonesia membangun ketahanan energi, kualitas sumber daya manusia, dan kemandirian ekonomi untuk masa depan,” pungkas Haidar Alwi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU