JAKARTA, HOLOPIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data kurs yang ditampilkan Google Finance mengacu pada Morningstar, hingga Jumat (5/6/2026) pukul 23.54 UTC atau Sabtu pagi WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp18.095,70 per dolar AS.
Angka tersebut menunjukkan pelemahan dibanding posisi rupiah pada awal Mei 2026 yang masih berada di kisaran Rp17.300 per dolar AS. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, kurs rupiah tercatat terus bergerak naik hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Berdasarkan grafik pergerakan satu bulan terakhir, tren penguatan dolar AS terhadap rupiah berlangsung secara bertahap sejak pertengahan Mei sebelum akhirnya mencapai posisi Rp18.095,70 pada awal Juni.
Pelemahan rupiah ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika pasar keuangan internasional yang masih berlangsung.
Meski demikian, dampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok di dalam negeri belum terlihat signifikan. Sejumlah komoditas konsumsi masyarakat masih relatif stabil karena sebagian besar dipengaruhi faktor distribusi domestik dan pasokan lokal.
Namun bagi sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor, seperti industri manufaktur, elektronik, farmasi, hingga bahan baku tertentu, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Kondisi kurs saat ini juga menjadi sorotan publik setelah sejumlah pengamat ekonomi mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar untuk menopang daya beli masyarakat dan menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Sebelumnya, beberapa tokoh politik dan pengamat turut menyoroti tren kenaikan dolar AS yang kini telah menembus level Rp18.000. Namun sebagian pihak menilai masyarakat perlu melihat persoalan nilai tukar secara lebih komprehensif dan tidak sekadar bereaksi terhadap angka kurs semata.
Hingga Sabtu pagi, pasar masih menunggu respons pemerintah dan otoritas moneter terkait perkembangan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir terus mengalami tekanan terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

