Kolaborasi Warga dan KKP Selamatkan Penyu, Ekowisata Jadi Bonus

0 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COMKKP bersama warga Anambas sukses menyelamatkan penyu lewat konservasi terpadu, ekowisata pun jadi dampak positif tak terduga.

Upaya penyelamatan penyu di wilayah Kepulauan Anambas ternyata tak cuma soal konservasi alam.

Lebih dari itu, kolaborasi antara warga dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) justru membuka jalan baru yaitu ekowisata berbasis konservasi yang mulai dilirik sebagai sumber ekonomi warga pesisir.

Program yang berjalan di Pulau Mangkai, kawasan konservasi nasional di Anambas, ini menggabungkan perlindungan habitat penyu dengan pelibatan aktif masyarakat lokal.

Hasilnya, bukan hanya ekosistem yang terjaga, tapi juga kesadaran warga yang ikut meningkat.

KKP mencatat, selama periode 2022 hingga 2025, upaya konservasi penyu di kawasan ini menunjukkan capaian signifikan.

- Advertisement -

Tercatat 3.139 pendaratan penyu berhasil dimonitor, dengan 2.858 sarang direlokasi untuk menghindari ancaman predator maupun gangguan alam.

Dari total 259.221 butir telur yang terdata, sekitar 224.075 berhasil menetas.

Bahkan, 221.635 tukik atau anak penyu sudah dilepasliarkan kembali ke laut.

Angka ini disebut menjadi indikator bahwa model konservasi berbasis kolaborasi mulai berjalan efektif di lapangan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menyebut Pulau Mangkai punya nilai strategis karena merupakan pulau terluar Indonesia sekaligus habitat penting penyu.

“Pengelolaan tidak hanya fokus pada perlindungan ekosistem, tapi juga diarahkan pada manfaat ekonomi berkelanjutan melalui ekowisata berbasis konservasi,” kata Koswara.

Sementara itu, Kepala Loka Pengelolaan Kelautan Pekanbaru, Rahmad Hidayat, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat jadi kunci utama.

“Kolaborasi multipihak membuat konservasi lebih efektif karena masyarakat menjadi garda terdepan dalam menjaga habitat penyu,” ujarnya.

Sementara, Ketua Yayasan Jaga Mangkai, Murwanto, menilai pendekatan ini tidak boleh berhenti di sisi pelestarian saja. Menurutnya, masyarakat harus merasakan dampak langsung.

“Kami dorong keterlibatan masyarakat dari pemantauan sampai pengembangan ekowisata, supaya ada manfaat ekonomi,” katanya.

Hal senada disampaikan Kepala Desa Keramut, Markos.

Ia menyebut warga kini punya peran lebih besar dalam menjaga penyu sekaligus mendapatkan peluang ekonomi baru.

“Kami merasa punya tanggung jawab bersama, dan dari situ juga muncul peluang ekonomi,” ujarnya.

Ke depan, kawasan Pulau Mangkai akan diperkuat dengan berbagai fasilitas pendukung seperti rumah jaga, energi terbarukan, air bersih, hingga program edukasi dan adopsi sarang penyu.

Rencana ini membuat kawasan tersebut diproyeksikan tak hanya sebagai lokasi konservasi, tapi juga pusat edukasi dan ekowisata berbasis lingkungan di wilayah perbatasan Indonesia.

Program ini juga sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang mendorong penguatan ekonomi biru, yakni keseimbangan antara pelestarian laut dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU