JAKARTA, Holopis.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melatih 573 pelatih untuk mencetak pengelola Kampung Nelayan Merah Putih yang andal, profesional, dan siap memperkuat ekonomi pesisir.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dengan melatih 573 pelatih manajerial yang nantinya akan membekali para pengelola KNMP di berbagai daerah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap Kampung Nelayan Merah Putih memiliki pengelola yang profesional, kompeten, dan mampu mengembangkan kawasan pesisir secara berkelanjutan.
Pelatihan tersebut dikemas dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) dan microteaching yang berlangsung secara serentak pada 6–10 Juli 2026 di empat kota, yakni Bogor, Bandung, Surabaya, dan Makassar.
Program ini menjadi bagian penting dari strategi KKP agar pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga didukung oleh kualitas SDM yang mampu mengelola kawasan secara efektif.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman Radiarta, mengatakan para pelatih memiliki posisi yang sangat strategis karena akan menjadi ujung tombak dalam mencetak pengelola KNMP yang siap bekerja di lapangan.
“Pengelola KNMP nantinya akan menjadi motor penggerak kawasan pesisir. Karena itu, mereka harus dibekali oleh pelatih yang benar-benar memahami substansi, mampu memfasilitasi pembelajaran, dan menginspirasi peserta agar siap menjalankan tugas di lapangan,” ujar Nyoman
Melalui Training of Trainers tersebut, KKP ingin memastikan seluruh pelatih memiliki standar kompetensi yang sama, baik dari sisi penguasaan materi, metode pembelajaran, maupun kemampuan menyampaikan pelatihan secara efektif.
Sebanyak 573 peserta terdiri atas pegawai KKP dan tenaga profesional yang nantinya akan menjadi fasilitator dalam Pelatihan Manajerial SDM Pengelola Kampung Nelayan Merah Putih.
Dengan adanya standarisasi tersebut, kualitas pelatihan diharapkan seragam di seluruh Indonesia sehingga setiap pengelola KNMP memperoleh materi dan pendampingan yang berkualitas.
Nyoman menegaskan bahwa pelatih tidak hanya dituntut memahami teori maupun substansi program, tetapi juga harus mampu membangun proses pembelajaran yang komunikatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir.
Menurutnya, kemampuan mengajar yang baik menjadi faktor penting agar materi pelatihan dapat diterapkan secara nyata oleh para pengelola di lapangan.
Untuk menjamin kualitas pembelajaran, BPPSDM KP terlebih dahulu melakukan penyempurnaan terhadap 28 modul pelatihan yang akan digunakan dalam program tersebut.
Penyempurnaan dilakukan melalui serangkaian uji coba yang melibatkan penyusun modul, pakar substansi, hingga para fasilitator.
Langkah ini bertujuan memastikan setiap materi benar-benar sesuai dengan tantangan pengelolaan Kampung Nelayan Merah Putih di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan modul yang telah divalidasi, para pelatih memiliki pedoman pembelajaran yang seragam sekaligus relevan dengan kondisi riil masyarakat nelayan.
Selama lima hari pelaksanaan ToT, peserta memperoleh penguatan materi dari berbagai unsur yang terlibat langsung dalam pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih.
Materi disampaikan oleh Satuan Tugas (Satgas) Operasional KNMP, Satgas Pembangunan KNMP, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, hingga PT Agrinas Jaladri Nusantara.
Kolaborasi lintas unit tersebut diharapkan mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai konsep pembangunan kawasan pesisir, tata kelola kelembagaan, pengembangan usaha, hingga strategi peningkatan daya saing hasil perikanan.
Selain memperoleh materi teknis, peserta juga mengikuti sesi microteaching yang difasilitasi oleh tenaga ahli dari Kementerian Ketenagakerjaan.
Dalam sesi ini, setiap peserta berlatih menyampaikan materi pelatihan secara langsung, kemudian mendapatkan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, teknik mengajar, serta pengelolaan kelas sesuai standar pelatihan profesional.
Setelah para pelatih dinyatakan siap, KKP akan melanjutkan tahapan berikutnya berupa Pelatihan Manajerial SDM Pengelola Kampung Nelayan Merah Putih yang dijadwalkan berlangsung pada 17–31 Juli 2026.
Melalui pelatihan tersebut, para pengelola akan dibekali berbagai kemampuan manajerial, kepemimpinan, pengembangan usaha, pengelolaan kelembagaan, hingga strategi pemberdayaan masyarakat pesisir.
Harapannya, seluruh pengelola Kampung Nelayan Merah Putih memiliki kapasitas yang memadai untuk menjalankan fungsi pengelolaan kawasan secara profesional.
Program peningkatan kapasitas SDM ini menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan keberhasilan Kampung Nelayan Merah Putih sebagai pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.
KKP menilai keberhasilan pembangunan kawasan tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik seperti dermaga, fasilitas produksi, maupun sarana pendukung lainnya. Pengelolaan yang profesional menjadi faktor penentu agar seluruh fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dengan hadirnya pengelola yang memiliki kemampuan manajerial yang baik, kawasan pesisir diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usaha perikanan, memperkuat kelembagaan ekonomi masyarakat, membuka lapangan pekerjaan baru, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan.
Program ini juga diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan Kampung Nelayan Merah Putih yang berkelanjutan sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Melalui pelatihan terhadap 573 pelatih manajerial ini, KKP menunjukkan komitmennya untuk membangun SDM yang berkualitas sebagai penggerak utama transformasi kawasan pesisir.
Dengan dukungan pelatih yang kompeten dan pengelola yang andal, Kampung Nelayan Merah Putih diharapkan menjadi model pembangunan pesisir yang produktif, mandiri, dan berdaya saing di seluruh Indonesia.


