HOLOPIS.COM, JAKARTA – Maybank Investment Bank memangkas estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil Malaysia tahun 2026 menjadi 4,4 persen dari 4,9 persen.
Langkah itu terjadi akibat risiko berkepanjangan konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai pasokan global, mendorong kenaikan harga minyak mentah, dan meningkatkan biaya pengiriman.
“Prospek ekonomi Malaysia berada di bawah tekanan seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam akan terus menimbulkan gangguan terhadap arus perdagangan global, memicu inflasi, dan membebani pengeluaran konsumen, kata lembaga riset dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com.
Menurut Maybank, konflik tersebut telah meningkatkan risiko gangguan ekonomi melalui harga minyak mentah yang tetap tinggi, penurunan tajam pergerakan kapal melalui Selat Hormuz, dan lonjakan tarif pengiriman barang, serta tekanan yang semakin membebani rantai pasokan global.
Sementara itu, Hong Leong Investment Bank Research tetap berhati-hati terhadap dampak limpahan dari blokade Selat Hormuz. Mereka turut memperingatkan gangguan produksi dapat muncul mulai Juni tahun ini dan seterusnya.
“Untuk saat ini, kami mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB 2026 sebesar 4,5 persen, sejalan dengan perkiraan Bank Sentral Malaysia,” ujarnya.
Sementara itu, CGS International juga memperingatkan pada Jumat (15/5) bahwa risiko semakin condong ke arah penurunan pada paruh kedua tahun ini, meskipun ada ekspektasi pertumbuhan yang tangguh pada kuartal kedua yang didukung oleh permintaan eksternal dan aktivitas domestik yang kuat.
CGS International memperkirakan permintaan domestik akan tetap ditopang oleh stabilitas kebijakan dan subsidi yang tepat sasaran, dan mempertahankan perkiraan pertumbuhan PDB untuk 2026 sebesar 4,8 persen.


