JAKARTA, HOLOPIS.COM – Rupiah yang terus melemah bikin banyak orang bertanya-tanya, apakah ini waktu yang tepat untuk borong dolar AS? Pakar keuangan punya jawabannya.
Rupiah melemah bikin sebagian masyarakat mulai kepikiran satu hal, sekarang waktunya borong dolar AS atau justru harus nahan dulu?
Di tengah kondisi ini, pakar keuangan mengingatkan agar masyarakat tidak buru-buru mengambil keputusan hanya karena melihat pergerakan kurs yang naik turun.
Perencana keuangan Rista Zwestika menegaskan, membeli dolar memang bisa jadi bagian dari strategi keuangan, tapi bukan langkah yang boleh dilakukan secara spontan tanpa perhitungan.
Menurutnya, kondisi keuangan pribadi tetap harus jadi acuan utama sebelum memutuskan masuk ke aset berbasis valuta asing.
“Jangan langsung ikut-ikutan tukar tabungan ke dolar hanya karena kurs lagi naik. Harus lihat dulu kebutuhan dan kondisi masing-masing,” ujarnya.
Rista menekankan, sebelum memikirkan dolar atau instrumen investasi lain, masyarakat wajib memastikan dana darurat dan kebutuhan harian sudah terpenuhi.
Setelah itu baru bisa mulai mempertimbangkan diversifikasi aset, termasuk ke mata uang asing.
“Kalau kebutuhan dasar sudah beres, baru bisa pelan-pelan masuk ke diversifikasi,” katanya.
Di tengah fluktuasi rupiah, salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah keputusan emosional.
Banyak orang tergoda membeli dolar dalam jumlah besar karena takut rupiah makin jatuh.
Ada juga yang menukar seluruh tabungan tanpa strategi yang jelas, bahkan sampai mengganggu cash flow harian.
Yang lebih ekstrem, sebagian orang sampai memakai dana darurat hanya untuk mengejar pergerakan kurs.
“Ini yang bahaya, seringnya karena ikut tren tanpa hitungan matang,” jelas Rista.
Rista menyebut membeli dolar saat rupiah melemah sebenarnya bisa jadi strategi, tapi tetap ada risikonya.
Kalau salah timing, nilai aset justru bisa turun saat rupiah kembali menguat.
Misalnya, beli di Rp16.500 lalu rupiah menguat ke Rp15.800, maka secara nilai bisa terjadi penurunan.
Karena itu, ia menyarankan strategi beli bertahap atau dollar cost averaging (DCA), bukan langsung dalam jumlah besar.
“Lebih aman dicicil. Jangan taruh semua dana di dolar,” tegasnya.
Di tengah tren dolar yang naik, tabungan rupiah tetap disebut sebagai fondasi utama keuangan pribadi.
Fungsinya bukan cuma simpan uang, tapi juga jadi bantalan saat kondisi darurat.
Sementara itu, tabungan valas bisa jadi opsi tambahan untuk diversifikasi, bukan pengganti total tabungan rupiah.
Pada akhirnya, pakar mengingatkan kunci utama bukan ikut-ikutan tren, tapi disiplin pada rencana keuangan jangka panjang.


