HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat mulai membuat industri otomotif waswas. Bahkan, kurs rupiah disebut telah menyentuh level Rp17.400 per US$1 dan berpotensi memicu kenaikan harga mobil baru di Indonesia.
Kondisi tersebut diungkap langsung oleh Chief Executive Officer PT Indomobil National Distributor, Tan Kim Piauw.
Menurutnya, pelemahan rupiah menjadi tantangan serius karena sebagian besar kebutuhan industri otomotif masih bergantung pada komponen dan pengiriman dari luar negeri.
Meski peluang kenaikan harga mobil terbuka lebar, Tan mengatakan pihaknya masih melakukan pembahasan dengan prinsipal dan pemerintah sebelum mengambil keputusan.
“Mengenai kenaikan nilai tukar atau uang asing pada rupiah yang makin kuat, memang itu berisiko membuat harga mobil terkoreksi, tapi untuk saat ini kita masih wait and see. Kita masih bicarakan dengan prinsip mengenai perubahan yang terjadi saat ini,” ujar dalam keterangannya pada Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, saat ini berbagai biaya industri mulai mengalami kenaikan, termasuk ongkos pengiriman komponen dari luar negeri ke Indonesia.
Menurut Tan, situasi global membuat pengiriman barang semakin mahal dan sulit didapatkan sesuai jadwal.
“Yang pasti saat ini beberapa hal udah mulai naik, misalnya shipment biaya pengiriman dari luar ke Indonesia. Selain kita juga dapet jadwal lebih sulit, biaya pengiriman juga naik,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap industri otomotif semakin besar, terutama bagi produsen yang masih mengandalkan impor komponen.
Industri Mobil Masih Tunggu Sikap Pemerintah
Meski situasi dinilai berat, pihak Indomobil belum mengambil langkah final terkait penyesuaian harga kendaraan.
“Ya memang situasi sekarang seharusnya ada suatu perubahan besar terhadap harga mobil. Tapi terus terang kita masih wait and see dari prinsipal kita dan juga pemerintah,” tambahnya.
Namun, Tan mengakui jika pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang, maka kenaikan harga mobil hampir tidak bisa dihindari lagi.
Tan menegaskan, koreksi harga kendaraan kemungkinan menjadi langkah terakhir untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tekanan kurs mata uang asing.
“Ya memang kalau ini betul-betul terjadi jangka waktu yang panjang, bahwa mata uang rupiah masih melemah terhadap beberapa mata uang asing, ya mau gak mau memang harga mobil itu harus dikoreksi, harus naik,” tuturnya.
“Itu mungkin salah satu strategi yang bisa kita lakukan. Tapi saat ini beberapa udah mulai ada koreksi. Tapi kan kenaikan mata uang asing terhadap (mata uang) Indonesia kan naik terus tiap hari. Ini yang masih kita pelajari,” lanjutnya.
Jika harga mobil benar-benar naik, konsumen diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak. Sebab, kenaikan biaya impor dan logistik berpotensi membuat harga kendaraan baru semakin mahal dalam beberapa bulan ke depan.
Pelaku industri kini berharap stabilitas nilai tukar rupiah bisa segera membaik agar pasar otomotif nasional tidak semakin tertekan.

