JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian publik. Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, mendorong pemerintah mengambil langkah berani untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk mempertimbangkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).
Menurut Sandri, tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilepaskan dari tingginya kebutuhan devisa untuk membiayai impor minyak dan gas bumi (migas) yang terus membengkak dari tahun ke tahun.
“Kurs 1 USD ke rupiah sudah mendekati Rp18 ribu. Ini harus ada kebijakan berani dari pemerintah,” kata Sandri dalam keterangannya, Senin (1/6/2026).
Ia menilai salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan pemerintah adalah menaikkan harga BBM guna menekan konsumsi energi impor sekaligus mengurangi beban subsidi yang selama ini menyedot anggaran negara.
“Biaya impor migas kita sangat membengkak, akhirnya menekan cadangan devisa. Jadi kalau bisa naikkan saja harga BBM agar bisa menekan biaya impor kita dan mengurangi beban subsidi BBM yang menguras APBN. Presiden harus berani mengambil sikap,” ujarnya.
Sandri mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap impor energi membuat kebutuhan dolar AS terus meningkat, sehingga memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Selain faktor impor migas, ia juga menyoroti kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah. Menurutnya, defisit anggaran yang mendekati ambang batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi salah satu indikator yang dicermati investor.
“Kondisi fiskal harus dijaga. Ketika penerimaan negara belum optimal sementara belanja terus meningkat, pasar tentu akan memberikan respons tersendiri,” tuturnya.
Di sisi lain, Sandri menjelaskan bahwa permintaan valuta asing juga sedang meningkat akibat berbagai kebutuhan musiman, mulai dari pembayaran utang luar negeri hingga repatriasi dividen perusahaan.
“Permintaan valas meningkat secara musiman untuk berbagai keperluan, seperti pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan baik swasta maupun BUMN, serta kebutuhan impor bahan baku,” katanya.
Ia juga menyinggung sejumlah program pemerintah yang membutuhkan dukungan anggaran besar sehingga turut mempengaruhi persepsi pasar terhadap kondisi fiskal nasional.
Menurut Sandri, kombinasi antara tingginya impor migas, meningkatnya permintaan dolar AS, dan tekanan terhadap APBN menjadi faktor yang harus segera diantisipasi pemerintah agar pelemahan rupiah tidak berlanjut.
“Karena itu dibutuhkan langkah-langkah yang tegas dan terukur untuk menjaga stabilitas rupiah serta memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia,” tandasnya.
Sandri menilai stabilitas nilai tukar merupakan faktor penting bagi keberlangsungan ekonomi nasional. Pasalnya, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, mendorong kenaikan harga barang, serta menambah tekanan terhadap dunia usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.


