Rupiah Anjlok Tembus Rp17.500 Per Dolar AS, Terpukul Konflik Iran dan Selat Hormuz

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan Selat Hormuz dinilai jadi faktor utama yang mendorong pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat.

Pada perdagangan Selasa siang sekitar pukul 11.47 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,51 persen ke posisi Rp17.503 per dolar AS. Angka itu turun dibanding penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.414 per dolar AS.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan gejolak di Selat Hormuz masih jadi perhatian utama pasar global. Meskipun omongan Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim konflik telah berakhir.

“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump (Presiden AS Donald Trump),” kata Ibrahim, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, (12/5/2026).

Menurut Ibrahim, situasi memanas setelah Amerika Serikat (AS) menolak proposal perdamaian dari Iran. Penolakan itu disebut memicu serangkaian serangan kecil antarkapal di kawasan strategis jalur distribusi minyak dunia tersebut.

Ia juga menyinggung dugaan keterlibatan Uni Emirat Arab (UEA) dalam konflik setelah muncul serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan, Iran.

- Advertisement -

Dugaan keterlibatan UEA jadi sorotannya setelah negara Timur Tengah itu keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

“Ini mengindikasikan bahwa Uni Emirate Arab pun juga setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) terus melakukan penyerangan, bisa saja di belakangnya itu adalah Amerika,” ujar Ibrahim.

Konflik yang terus berkepanjangan di Timur Tengah membuat indeks dolar AS menguat signifikan. Kondisi tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya jenis brent crude oil.

Pun, dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen belum cukup kuat menopang penguatan rupiah.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi masih lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah. Adapun kontribusi investasi dinilai belum signifikan.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 (persen) di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan selain tekanan eksternal, kondisi ketenagakerjaan dalam negeri juga jadi sentimen negatif bagi pasar. Ibrahim menyebut sepanjang Januari hingga April 2026, sekitar 40 ribu pekerja sektor padat karya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sektor yang terdampak meliputi industri manufaktur tekstil, garmen, hingga elektronik. Ia bahkan memprediksi angka PHK masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Di sisi lain, struktur tenaga kerja Indonesia yang masih didominasi sektor nonformal turut menjadi perhatian. Saat ini jumlah pekerja nonformal mencapai sekitar 87,74 juta orang, lebih tinggi dibanding pekerja formal.

Pasar juga masih menanti keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang disebut berpotensi menurunkan peringkat saham Indonesia. Kondisi itu dinilai dapat menambah tekanan terhadap rupiah dalam waktu dekat.

Meski demikian, Ibrahim memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berada di kisaran terbatas dan tidak menembus jauh di atas Rp17.550 per dolar AS.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU