Video Klarifikasi Sarwendah Cuma Settingan? Ini Kata Pakar Mikro Ekspresi

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Video klarifikasi Sarwendah kembali jadi sorotan. Pakar ekspresi menilai gestur dan ucapannya terkesan tidak sepenuhnya tulus.

Video permintaan maaf dari selebritas Sarwendah yang sempat viral di media sosial masih terus jadi bahan perbincangan.

Bukan cuma soal isi klarifikasinya, tapi juga muncul analisis dari pakar ekspresi yang menilai ada indikasi kuat bahwa momen tersebut lebih terlihat seperti pengelolaan citra ketimbang luapan penyesalan yang tulus.

Analisis itu disampaikan oleh pakar mikro ekspresi Kirdi Putra dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Reyben Entertainment.

Ia membedah cara bicara, pilihan kata, hingga gestur yang muncul dalam video klarifikasi Sarwendah yang sebelumnya dibuat usai video kemarahan dirinya tersebar luas di berbagai platform.

Menurut Kirdi, ada sejumlah indikator verbal yang menurutnya tidak lengkap dalam sebuah permintaan maaf yang benar-benar tulus.

- Advertisement -

Ia menyebut, setidaknya ada tiga elemen penting: siapa yang meminta maaf, kepada siapa permintaan itu ditujukan, dan alasan spesifik kenapa permintaan maaf itu disampaikan.

“Kalau kita bicara, dia tidak menjelaskan secara spesifik kenapa dia minta maaf,” ujar Kirdi dalam analisisnya.

Ia menilai, Sarwendah memang sudah memenuhi bagian awal dengan mengakui kesalahan secara umum.

Namun, dua poin lainnya dianggap tidak muncul secara jelas, terutama soal target permintaan maaf dan penyebab detail dari kejadian yang dipermasalahkan.

Dalam video tersebut, Sarwendah disebut lebih banyak menyampaikan permintaan maaf secara luas kepada publik, keluarga, hingga penggemar, tanpa mengerucut pada konteks spesifik yang memicu kontroversi awal.

Hal lain yang ikut disorot adalah frekuensi penyebutan kata “penggemar” yang dinilai lebih dominan dibanding kata “keluarga” atau “masyarakat”.

Menurut Kirdi, hal ini secara tidak langsung bisa membentuk persepsi bahwa fokus utama dari klarifikasi tersebut adalah menjaga citra di mata fans.

“Yang paling sering disebut itu penggemar. Ini jadi menarik, karena seolah-olah yang paling penting adalah bagaimana citra di mata penggemar tetap terjaga,” katanya.

Dari situ, ia kemudian menyimpulkan bahwa video tersebut lebih menyerupai bentuk komunikasi terkontrol ketimbang ekspresi emosional spontan.

Bahkan, ia menyebutnya sebagai “drama teatrikal” dalam konteks komunikasi publik.

Meski begitu, Kirdi tetap menekankan bahwa analisis ekspresi bukanlah penentu mutlak soal ketulusan seseorang.

Namun, pola-pola komunikasi nonverbal dan verbal bisa memberi gambaran bagaimana pesan itu diterima publik.

Di sisi lain, Sarwendah sendiri sebelumnya muncul dengan video klarifikasi setelah potongan video dirinya yang terlihat emosi dan melontarkan kata-kata kasar viral di media sosial.

Dalam klarifikasinya, ia mengakui bahwa ucapannya tidak pantas dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik serta pihak yang merasa terganggu.

Namun, perdebatan di ruang publik terlanjur melebar.

Ada yang menilai klarifikasi tersebut sudah cukup, tapi ada juga yang menganggapnya belum menyentuh akar masalah.

Hingga kini, belum ada tanggapan lanjutan dari pihak Sarwendah terkait analisis yang menyebut video klarifikasinya sebagai “settingan emosi” atau sekadar upaya menjaga citra.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Eagle Eye
Gesha Yuliani Nattasya, Eagle Eye
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU