HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Iran kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) di tengah negosiasi yang masih berlangsung terkait ketegangan kawasan Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Teheran siap melanjutkan konflik militer langsung dengan Washington.
Ancaman Teheran itu bila pembicaraan diplomatik tak menghasilkan kesepakatan yang dianggap menguntungkan Iran.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan pasca konflik AS-Israel melawan Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu. Konflik itu disebut telah memicu gangguan besar di kawasan, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz, jalur strategis tempat hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia biasanya melintas.
Dalam pernyataannya di media sosial X, Araghchi menilai dampak perang tak hanya dirasakan Iran. Namun, juga berdampak dengan menghantam ekonomi masyarakat AS melalui lonjakan biaya energi dan inflasi.
“Warga Amerika diberitahu bahwa mereka harus menanggung biaya perang pilihan yang meroket terhadap Iran,” tulis Araghchi di X, disertai dengan gambar kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dikutip dari Aljazeera, Minggu, (17/5/2026).
Ia juga menyoroti potensi tekanan ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat AS apabila konflik terus berlangsung.
“Selain kenaikan harga bensin dan gelembung pasar saham, penderitaan sebenarnya dimulai ketika utang AS dan suku bunga hipotek mulai melonjak. Tingkat tunggakan pinjaman mobil sudah mencapai level tertinggi dalam 30 tahun terakhir,” kata Aragchi.
Pemerintah Iran mencoba membangun narasi bahwa ancaman perang berkepanjangan akan memperburuk kondisi ekonomi AS. Hal itu termasuk memicu kenaikan biaya pinjaman hingga risiko resesi akibat tekanan di pasar energi global.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga melontarkan kritik tajam kepada Washington. Ia menyindir Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth terkait biaya besar yang harus ditanggung rakyat AS akibat konflik di kawasan Teluk.
“Jadi, Anda mendanai [Pete] Hegseth, pembawa acara TV yang gagal, dengan suku bunga yang belum pernah terdengar sejak 2007, sehingga dia bisa berperan sebagai Menteri Perang di halaman belakang kita di Hormuz?” tulis Ghalibaf di X.
“Tahukah Anda apa yang lebih gila daripada utang $39 triliun? Membayar premi pra-krisis keuangan global (GFC) untuk mendanai LARP (permainan peran aksi langsung) dan yang akan Anda dapatkan hanyalah GFC baru,” lanjutnya.
Komentar tersebut muncul setelah lelang obligasi pemerintah AS senilai 25 miliar dolar AS bertenor 30 tahun mencatat imbal hasil lima persen. Angka level yang disebut belum pernah terjadi dalam hampir dua dekade terakhir.
Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun juga dilaporkan menyentuh level tertinggi dalam sekitar setahun terakhir.
Pasar disebut mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve guna menekan inflasi yang dipicu gejolak energi akibat ketidakstabilan di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri kini menjadi titik utama dalam negosiasi antara Washington dan Teheran. Iran menuntut pengakuan atas kedaulatannya dalam pengelolaan jalur perairan strategis tersebut, namun tuntutan itu ditolak sejumlah negara Teluk yang menegaskan status internasional selat tersebut.
Kepala Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran Ebrahim Azizi mengatakan Teheran telah menyiapkan mekanisme baru untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
“Dalam proses ini, hanya kapal komersial dan pihak-pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapat manfaat darinya,” katanya.
Azizi menambahkan kapal-kapal yang diizinkan melintas nantinya harus membayar biaya tertentu, sementara pihak yang mendukung “Proyek Kebebasan” Washington disebut akan ditolak aksesnya ke jalur tersebut.


