Damai Belum Permanen! Iran Siap Bertindak Jika Janji Dikhianati

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat belum sepenuhnya mereda meski kedua negara telah menandatangani kesepakatan yang membuka jalan menuju perundingan baru. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan peringatan tegas kepada pihak yang dianggap melanggar komitmen dalam perjanjian tersebut.

Melalui unggahan di platform X pada Jumat (19/6/2026), Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam apabila ada pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dicapai.

“Jika terjadi pelanggaran komitmen, pelanggaran perjanjian, atau tuntutan berlebihan oleh pihak lain, kami tidak akan ragu untuk memberikan respons yang menghancurkan kepada musuh,” tulis Ghalibaf yang dikutip Holopis.com.

Pernyataan itu muncul hanya dua hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menandatangani secara elektronik Memorandum of Understanding Islamabad pada Rabu malam (17/6/2026).

Kesepakatan tersebut disebut menjadi langkah awal menuju penghentian konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Selain itu, memorandum juga membuka ruang bagi proses negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran.

Dalam unggahannya, Ghalibaf bahkan mengingatkan bahwa Iran pernah memberikan balasan atas serangan yang terjadi selama konflik berlangsung.

- Advertisement -

“Mereka telah ditampar sekali dalam perang: jika mereka memilih untuk mengikuti jalan yang sama lagi, mereka akan menerima tamparan yang lebih keras,” tulisnya.

Meski melontarkan peringatan keras, Ghalibaf menegaskan bahwa pemerintah dan lembaga-lembaga negara di Iran saat ini tetap fokus menjalankan amanat yang diberikan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Menurutnya, prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh syarat dan ketentuan dalam perjanjian dapat dijalankan sebagaimana yang telah disepakati.

“Sembari menekankan bahwa tugas yang diberikan oleh Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei kepada mereka adalah untuk mewujudkan syarat dan ketentuan perjanjian, kami sedang menjalankan perintah tersebut,” demikian pesan yang disampaikan Ghalibaf.

Berdasarkan Memorandum Islamabad, Amerika Serikat dan Iran akan menjalani proses negosiasi selama 60 hari dengan opsi perpanjangan apabila diperlukan. Perundingan itu difokuskan pada sejumlah isu krusial, termasuk program nuklir Iran serta berbagai sanksi internasional yang selama ini menjadi sumber ketegangan kedua negara.

Meski jalur diplomasi mulai terbuka, pernyataan terbaru dari Ketua Parlemen Iran menunjukkan bahwa tingkat kewaspadaan Teheran terhadap implementasi kesepakatan tersebut masih sangat tinggi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Ronalds Petrus Gerson
Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU