JAKARTA – Influencer sekaligus mantan Komisaris Independen PT Pelayaran Nasional Indonesia, Dede Budhyarto angkat bicara meluruskan polemik pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang belakangan ramai dipotong dan dipelintir di media sosial terkait kondisi nilai tukar rupiah.
Menurut Dede, publik perlu memahami konteks utuh pidato Presiden agar tidak mudah terpancing emosi hanya karena cuplikan video pendek yang beredar di media sosial.
“ Mari kita jernihkan dulu konteks ucapannya, jangan cuma potongan video yang dipakai buat bikin amarah,” kata Dede dalam keterangannya di akun X pribadinya @kangdede78, Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan, saat itu Prabowo sedang berbicara di hadapan masyarakat desa dan koperasi desa di Kabupaten Nganjuk. Menurut Dede, Presiden ingin menenangkan masyarakat kecil yang sehari-hari bertransaksi menggunakan rupiah untuk memenuhi kebutuhan pokok.
“Presiden sedang berpidato di depan rakyat desa dan koperasi desa di Nganjuk. Beliau ingin menenangkan masyarakat bawah yang sehari-hari transaksi pakai rupiah, beli sayur, beras, tempe, bensin di warung atau pasar tradisional, bukan pakai dolar,” ujarnya.
Dede menilai pesan utama Presiden sebenarnya sederhana, yakni meminta masyarakat tidak panik berlebihan terhadap fluktuasi kurs karena pemerintah sedang fokus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
“Pesannya sederhana, jangan panik berlebihan soal kurs, karena prioritas pemerintah adalah menjaga ketersediaan pangan dan energi agar harga kebutuhan pokok tetap terkendali,” jelasnya.
Ia mengakui pelemahan rupiah memang berdampak pada barang impor seperti kedelai, gandum, dan bahan baku industri. Namun menurutnya, hal itu tidak berarti Presiden Prabowo tidak memahami persoalan ekonomi nasional.
Sebaliknya, Dede menilai Prabowo justru tengah mendorong solusi jangka panjang melalui penguatan produksi dalam negeri dan swasembada pangan.
“Pak Prabowo justru sedang dorong solusi jangka panjang seperti hilirisasi dan swasembada pangan, memperkuat produksi dalam negeri, membangun koperasi desa, serta program makan bergizi gratis agar rakyat kecil tidak terbebani harga mahal,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap dolar Amerika Serikat saat ini dialami banyak negara akibat kondisi global, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat hingga tensi geopolitik dunia.
Menurut Dede, kondisi Indonesia saat ini jauh lebih stabil dibanding masa-masa sebelumnya karena memiliki cadangan devisa yang kuat dan situasi politik yang relatif kondusif.
“Yang bikin heboh justru buzzer dan oposisi yang memelintir setiap kalimat jadi bahan serangan,” ucapnya.
Dede menilai masyarakat desa yang disebut Prabowo justru membutuhkan pemimpin yang fokus bekerja dan memberikan solusi konkret, bukan gaduh politik di media sosial.
“Rakyat desa yang beliau sebut itu justru yang paling butuh pemimpin tegas seperti Pak Prabowo, bukan drama medsos yang cuma bikin panik,” ujarnya.
Ia menambahkan pemerintah saat ini juga terus melakukan berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi dampak ekonomi global, mulai dari intervensi kebijakan oleh Bank Indonesia, subsidi, hingga diversifikasi impor.
Karena itu, Dede mengingatkan agar kritik terhadap pemerintah tetap disampaikan secara proporsional tanpa langsung melabeli Presiden dengan kata-kata kasar hanya dari satu potongan pernyataan.
“Kritik boleh, tapi jangan langsung menghakimi dari satu kalimat. Lihat keseluruhan kerja pemerintah, investasi masuk, proyek strategis jalan, fokus ke rakyat kecil. Indonesia butuh persatuan, bukan saling benci,” pungkasnya.


