PONTIANAK, HOLOPIS.COM – Kontroversi LCC MPR RI Kalbar makin panas! SMAN 1 Sambas tegas tolak final ulang dan bantah tudingan settingan juara.
Kontroversi hasil Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat masih terus memanas.
Di tengah derasnya kritik publik dan tudingan kecurangan yang viral di media sosial, pihak SMAN 1 Sambas akhirnya buka suara secara resmi.
Sekolah tersebut menegaskan menolak wacana final ulang sekaligus membantah keras tuduhan adanya “settingan juara” dalam ajang bergengsi tersebut.
Pernyataan resmi itu disampaikan langsung melalui akun media sosial sekolah pada Jumat (15/5/2026).
Sikap tersebut muncul setelah polemik hasil final LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar memicu perdebatan luas di kalangan masyarakat, guru, hingga netizen.
Dalam kompetisi yang digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026), SMAN 1 Sambas keluar sebagai juara pertama usai bersaing melawan SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sanggau.
Namun hasil tersebut menjadi sorotan lantaran muncul kontroversi terkait mekanisme penilaian dan keputusan dewan juri pada babak final.
Pihak sekolah menyebut keputusan mengeluarkan pernyataan sikap diambil setelah diskusi bersama dewan guru, staf tata usaha, peserta lomba, serta orang tua siswa.
Fokus utama mereka, kata pihak sekolah, adalah menjaga marwah pendidikan sekaligus kesehatan mental siswa yang kini menjadi sasaran hujatan publik.
“Berdasarkan komitmen bersama dewan guru, staf TU, peserta LCC beserta orang tua untuk menjaga marwah pendidikan dan kesehatan mental murid dalam lingkungan yang sehat dan bermartabat,” tulis pihak sekolah dalam keterangannya.
Tak hanya satu poin, SMAN 1 Sambas merilis delapan poin sikap resmi.
Salah satu poin paling disorot adalah penegasan bahwa sekolah menghormati hasil final yang telah diputuskan panitia dan menolak digelarnya pertandingan ulang.
Kepala sekolah menegaskan bahwa pihaknya menerima hasil lomba sebagai keputusan resmi yang sudah melalui mekanisme penyelenggaraan.
Mereka juga menyatakan bahwa seluruh peserta dari Regu B SMAN 1 Sambas telah mengikuti aturan lomba sebagaimana tata tertib yang disepakati bersama seluruh peserta.
“Menghormati setiap keputusan resmi yang telah ditetapkan sebagai bagian dari mekanisme penyelenggaraan lomba,” tegas pihak sekolah.
Polemik ini sendiri ramai setelah beredar video babak final yang menunjukkan salah satu peserta dari SMAN 1 Sambas menjawab pertanyaan setelah menekan tombol.
Momen itu kemudian memicu tudingan bahwa penambahan poin kepada Regu B tidak fair dan dianggap menguntungkan salah satu pihak.
Namun SMAN 1 Sambas menilai peserta mereka tidak melakukan pelanggaran apa pun.
Sekolah meyakini seluruh proses berjalan sesuai tata tertib yang sudah ditentukan sejak awal kompetisi berlangsung.
“Meyakini bahwa peserta LCC 4 Pilar dari SMAN 1 Sambas telah berkompetisi sesuai tata tertib yang telah ditetapkan panitia dan disepakati seluruh peserta lomba,” lanjut pernyataan tersebut.
Di sisi lain, sekolah juga menyayangkan lambatnya penyelenggara dalam menyelesaikan polemik yang berkembang.
Menurut mereka, keterlambatan klarifikasi membuat situasi semakin liar dan berujung pada serangan opini publik terhadap sekolah.
Bahkan, unggahan perayaan kemenangan yang sebelumnya dibagikan pihak sekolah justru menjadi sasaran kritik tajam netizen.
Akibatnya, sejumlah siswa disebut mengalami tekanan psikologis karena terus dihujani komentar negatif di media sosial.
SMAN 1 Sambas pun mengecam berbagai tuduhan yang dianggap mencemarkan nama baik sekolah, guru, siswa, hingga alumni.
Mereka menilai opini liar yang berkembang sudah melewati batas dan memperkeruh suasana pendidikan.
“Tindakan ini telah mencemarkan nama baik SMAN 1 Sambas, menimbulkan tekanan psikologis kepada pihak yang terdampak serta memperkeruh suasana,” tulis pihak sekolah.
Tak berhenti di situ, pihak sekolah juga membantah keras berbagai tuduhan yang menyebut kemenangan mereka sudah diatur sejak awal.
Isu soal dugaan penyuapan, nepotisme, hingga anggapan SMAN 1 Sambas sengaja dipersiapkan menjadi wakil Kalbar di tingkat nasional ditepis mentah-mentah.
Pernyataan tegas itu sekaligus menjadi jawaban atas narasi “settingan juara” yang ramai berseliweran di media sosial beberapa hari terakhir.
Sekolah memastikan tidak ada praktik curang dalam proses kompetisi.
“SMAN 1 Sambas menolak pertandingan final ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat,” tegas kepala sekolah.
Meski dihantam kontroversi, posisi SMAN 1 Sambas sebagai juara pertama tetap membuat mereka berhak melaju ke tingkat nasional mewakili Kalimantan Barat.
Ajang LCC Empat Pilar MPR RI tingkat nasional dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada Agustus 2026 mendatang.
Kontroversi LCC ini pun kini tak hanya menjadi isu pendidikan biasa, tetapi sudah berubah menjadi perbincangan nasional.
Banyak pihak meminta evaluasi terhadap sistem penilaian lomba, sementara sebagian lainnya mengingatkan publik agar tidak menyeret siswa ke dalam konflik yang lebih besar.
Sampai saat ini, polemik final LCC Empat Pilar MPR RI Kalbar masih menjadi perhatian publik.
Media sosial terus dipenuhi pro dan kontra, mulai dari kritik terhadap keputusan juri hingga dukungan kepada para siswa yang dianggap menjadi korban tekanan opini publik.
Di tengah situasi panas tersebut, SMAN 1 Sambas memilih berdiri pada satu sikap: menghormati hasil lomba, melindungi siswa dari tekanan mental, dan menolak final ulang yang dinilai justru akan memperpanjang polemik.

