HOLOPIS.COM, JAKARTA – Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026 viral setelah peserta mengeluhkan sistem ujian online error, jawaban berubah sendiri dan hasil dinilai kacau.
Gelombang protes terus menguat terkait pelaksanaan seleksi Manajer Koperasi Desa Merah Putih 2026.
Sistem rekrutmen berbasis daring yang dipakai dalam ujian tersebut diduga mengalami gangguan serius hingga memicu kekacauan jawaban peserta yang disebut bisa berubah sendiri secara otomatis.
Sejumlah peserta mengaku situasi ini membuat mereka kehilangan kendali saat mengerjakan soal, bahkan berujung pada kekhawatiran hasil ujian menjadi tidak valid.
Kisah paling viral datang dari peserta bernama Ripal, yang membagikan pengalamannya melalui video di media sosial TikTok.
Dalam unggahannya, ia menyebut sistem ujian tidak berjalan normal dan cenderung merugikan peserta.
“Website-nya aneh banget. Kita sudah jawab yang benar, sudah disimpan, tapi pas balik lagi kursornya langsung mengganti sendiri ke pilihan lain,” ungkap Ripal dalam video yang kemudian ramai dibahas warganet.
Unggahan tersebut sempat menyebar luas sebelum dikabarkan menghilang dari platform, namun potongan videonya sudah terlanjur viral dan memicu banyak keluhan serupa.
Tak berhenti di situ, keluhan lain juga muncul dari peserta dengan akun media sosial @cand* yang mengikuti ujian di wilayah BKN III Bandung.
Dalam keterangannya, akun tersebut menyebut jawaban bisa berpindah sendiri setelah tombol “next” atau “save” ditekan, bahkan tanpa disadari peserta.
“Sudah dipilih, tapi setelah lanjut atau simpan, jawabannya malah berubah sendiri,” demikian keluhan yang beredar dan ramai dikutip peserta lain di kolom komentar.
Navigasi Berantakan
Selain isu perubahan jawaban yang membuat peserta kebingungan di tengah ujian, berbagai kendala teknis lain juga ikut memperburuk situasi pelaksanaan seleksi tersebut.
Sejumlah peserta mengaku sistem tidak berjalan stabil, mulai dari respons yang sangat lambat hingga harus mengklik berulang kali sebelum pilihan jawaban bisa terbaca oleh sistem.
Kondisi ini membuat proses pengerjaan soal terasa tidak normal dan jauh dari kata lancar.
Tak hanya itu, tombol “save” dan “next” juga dilaporkan sering tidak aktif saat ditekan, sehingga peserta tidak yakin apakah jawaban mereka benar-benar tersimpan atau tidak.
Di beberapa kasus, halaman soal bahkan tiba-tiba berpindah ke nomor acak tanpa perintah, membuat peserta kehilangan fokus dan waktu berharga di tengah ujian yang dibatasi durasi ketat.
Situasi semakin rumit ketika server disebut mengalami keterlambatan respons yang cukup signifikan.
Proses loading yang lama membuat banyak waktu ujian tersita hanya untuk menunggu halaman terbuka.
Akibatnya, sejumlah peserta merasa dirugikan karena tidak bisa menyelesaikan seluruh soal dengan optimal, terutama mereka yang sudah datang dari luar daerah dan mengeluarkan biaya perjalanan serta akomodasi yang tidak sedikit.
Tuntutan Audit Sistem
Situasi ini langsung memicu sorotan publik.
Banyak peserta menilai sistem seleksi tidak siap digunakan untuk rekrutmen berskala nasional yang melibatkan ribuan peserta.
Kekhawatiran terbesar kini mengarah pada potensi ketidakadilan dalam penilaian akhir, mulai dari passing grade hingga pemeringkatan peserta.
Sejumlah pihak mendesak dilakukan audit menyeluruh terhadap sistem ujian, bahkan tidak sedikit yang meminta agar tes ulang digelar untuk sesi yang terdampak gangguan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara maupun instansi terkait, termasuk Kementerian Koperasi dan Badan Kepegawaian Negara (BKN), belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan error sistem tersebut.
Kondisi ini membuat polemik semakin meluas di media sosial, dengan warganet terus menuntut kejelasan dan transparansi dari panitia seleksi.
Publik kini menunggu langkah tegas apakah akan ada audit sistem, klarifikasi terbuka, atau bahkan opsi ujian ulang bagi peserta yang terdampak.

