Pengamat Sebut Ada Mega, Prabowo, dan Momentum di Balik Karir Politik Jokowi

1 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA — Jusuf Kalla kembali membuka sejarah lama soal perannya dalam perjalanan politik Joko Widodo. Namun di tengah perubahan konstelasi kekuasaan, pernyataan itu kini tak lagi dibaca sebagai kilas balik semata. Banyak yang melihatnya sebagai bagian dari dinamika baru antar elite.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai pernyataan JK tidak bisa dilepaskan dari konteks politik kekinian. Momentum kemunculan pernyataan ini pun dinilai bukan kebetulan. Di saat peta politik mulai bergeser, setiap narasi lama bisa punya makna baru.

“Dalam politik, pernyataan tentang masa lalu hampir selalu punya dimensi hari ini. Apa yang disampaikan JK bisa dibaca sebagai upaya menegaskan peran historis sekaligus menjaga posisi dalam percakapan politik nasional,” ujar Arifki, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, perjalanan politik Jokowi juga tidak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh kunci lain seperti Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, serta berbagai momentum politik yang menguntungkan seperti selera politik rakyat. Dan, posisi JK tahun 2014 memang sebagai cawapres Jokowi.

Menurutnya, dukungan partai, konfigurasi koalisi, hingga situasi politik nasional saat itu turut membentuk jalan Jokowi menuju puncak kekuasaan.

“Ketika konfigurasi politik berubah, narasi tentang siapa berperan apa menjadi relevan kembali. Ini bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal positioning,” lanjutnya.

- Advertisement -

Meski demikian, Arifki mengingatkan bahwa perjalanan politik seorang pemimpin tidak berdiri sendiri, melainkan hasil interaksi banyak aktor dan momentum.

“Ada banyak aktor dan faktor yang berkontribusi. Karena itu, publik juga perlu melihatnya dalam konteks yang lebih luas,” katanya.

Sebelumnya, Jusuf Kalla buka-bukaan mengenai perannya dalam perjalanan karier politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Dia mengaku yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta hingga menjadi presiden.

JK ingin agar para Termul (Ternak Mulyono) alias kelompok yang loyal pada Jokowi mengetahui hal itu. Hal tersebut disampaikan JK dalam jumpa pers tentang klarifikasi mengenai ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026 atau dalam rangka Ramadhan 1447 Hijriah yang salah satunya menyinggung penanganan konflik di Ambon dan Poso.

Mantan Wakil Presiden RI tersebut mengatakan, polemik ceramahnya itu muncul setelah dirinya melaporkan Rismon Sianipar ke polisi dan menyinggung ijazah Jokowi. JK mengaku heran dengan para pendukung Jokowi yang seolah menuduhnya melawan Jokowi setelah ikut berkomentar tentang kasus ijazah Jokowi.

“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa,” ujar JK dalam jumpa pers di rumahnya, Jakarta Selatan, Sabtu 18 April 2026.

Lantas, JK pun mengaku bahwa yang membawa Jokowi ke Jakarta untuk dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada Jakarta 2012 adalah dirinya.

Dalam sejarah yang ia sampaikan, JK mengaku yang menemui langsung Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kala itu dan menyampaikan bahwa Jokowi merupakan orang yang baik. Sehingga ia mengklaim Megawati hanya mau menandatangani rekomendasi pencalonan Jokowi saat maju Pilpres 2014 adalah karena berpasangan dengannya. Kala itu, partai koalisi pendukung Jokowi-JK adalah ; PDIP, PKB, NasDem, Hanura, dan PKPI.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU