Gawat! Stok Plastik Diprediksi Habis Mei-Juni, Industri Makanan Minuman Terancam Lumpuh

16 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, Jakarta – Industri makanan dan minuman RI terancam krisis serius setelah stok plastik diprediksi habis pada Mei-Juni. Industri makanan dan minuman nasional menghadapi ancaman serius.

Stok bahan baku plastik diperkirakan habis pada Mei hingga Juni 2026, seiring lonjakan harga dan terganggunya pasokan global.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, mengatakan kondisi ini sudah mulai terasa di lapangan.

Sejumlah pemasok bahkan telah memberikan sinyal keterbatasan stok dalam waktu dekat.

“Selain harga naik, ketersediaan bahan baku juga terbatas. Beberapa pemasok menyampaikan stok kemungkinan habis pada Mei atau Juni,” ujarnya di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Kenaikan harga plastik menjadi pukulan berat bagi pelaku industri.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga bahan baku plastik melonjak hingga 30–60 persen, bahkan di beberapa jenis mendekati 100 persen. Kondisi ini membuat biaya produksi ikut terdongkrak.

Pasalnya, kontribusi kemasan plastik terhadap harga pokok produk berkisar 20–25 persen. Artinya, ketika harga plastik naik drastis, harga jual produk ikut terdorong naik.

Namun di sisi lain, produsen tidak bisa serta-merta membebankan kenaikan tersebut ke konsumen. Akibatnya, margin keuntungan tergerus dan daya saing produk ikut melemah.

Tak hanya soal harga, keterbatasan bahan baku juga berpotensi mengganggu produksi. Bahkan, industri hulu plastik dalam negeri disebut mengalami penurunan produksi hingga 70 persen.

Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin aktivitas produksi makanan dan minuman ikut terganggu. Sejumlah pelaku usaha mulai mengambil langkah darurat. Ada yang menyesuaikan harga jual secara bertahap, ada pula yang mulai beralih ke kemasan alternatif seperti kaca.

Di sisi lain, industri daur ulang plastik juga didorong untuk meningkatkan kapasitas, terutama dalam menghasilkan plastik food grade sebagai solusi jangka menengah.

Konflik Global

Gangguan pasokan ini tak lepas dari situasi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah. Indonesia selama ini masih bergantung pada impor bahan baku utama plastik, yakni nafta, dari wilayah tersebut.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut konflik yang terjadi membuat distribusi terganggu dan berdampak langsung pada harga.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain seperti India, Amerika Serikat, dan sejumlah negara di Afrika.

“Pada prinsipnya kita cari sumber lain untuk memastikan pasokan tetap tersedia,” katanya.

Efek Berantai

Nafta sendiri merupakan bahan dasar penting dalam produksi plastik, yang kemudian diolah menjadi berbagai produk kemasan seperti botol dan pembungkus makanan.

Ketika pasokan nafta terganggu, biaya produksi plastik ikut naik. Dampaknya merembet ke harga barang di pasaran, termasuk produk makanan dan minuman.

Tak hanya Indonesia, sejumlah negara produsen plastik seperti Taiwan, Korea Selatan, hingga Vietnam juga dilaporkan mengalami kendala produksi akibat krisis bahan baku.

Kondisi ini memperparah tekanan global dan membuat rantai pasok semakin tersendat.

Jika tidak segera diatasi, krisis ini berpotensi membuat industri makanan dan minuman dalam negeri tersendat, bahkan lumpuh dalam beberapa bulan ke depan.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
16 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU