HOLOPIS.COM, JAKARTA – Koordinator KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), Dimas Bagus Arya Saputra meyakini bahwa total para eksekutor lapangan penyerangan Andrie Yunus tidak hanya 4 (empat) orang seperti yang diklaim aparat, melainkan belasan orang.
Hal ini disampaikan Dimas berdasarkan pemeriksaan dan analisis seluruh rekaman CCTV yang berhasil dikumpulkan oleh Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD).
“Jadi tangkapan layar CCTV yang ditemukan oleh tim Advokasi untuk Demokrasi menangkap bahwa ada aktivitas di sepanjang jalan Salemba seberang YLBHI, lalu di dalam portal pintu keluar pintu masuknya YLBHI yang menuju ke perumahan Borobudur itu. Lalu juga ada tangkapan layar seseorang yang diduga berhenti dan coba untuk kemudian melakukan pengintaian juga di dalam lokasi perumahan Borobudur itu yang sebelahnya lapangan bola itu,” jelas Dimas dalam podcast Bocor Alus Politik seperti dilihat Holopis.com, Minggu (29/3/2026).
Memang berdasarkan data CCTV yang didapat, pelaku utama penyiraman ada 2 (dua) orang yang berboncengan dan melakukan penyerangan kepada Andrie Yunus, di kawasan Jalan Talang, Salemba, Jakarta Pusat, pada hari Kamis, 12 Maret 2026.
Namun serangkaian sindikasi yang diduga merupakan bagian dari operasi tersebut bisa mencapai 13 orang lebih.
“Jadi ada beberapa lokasi-lokasi yang memang kami coba untuk telusuri dan menemukan ada beberapa orang itu ya, yang jumlahnya kalau kita hitung waktu itu adalah belasan, tapi mungkin bisa lebih,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) Muhammad Isnur juga menguatkan mengapa dugaan kuat ada belasan orang yang terlibat, karena di dalam rangkaian operasi penyerangan tersebut, ada berbagai pihak yang memiliki peran.
Mulai dari pengadaan cairan asam kuat atau air keras yang digunakan untuk melakukan tindak pidana kejahatan, kemudian distribusi ke aktor eksekutor.
“Penyiraman air keras itu kan operasi yang bukan hanya penyiramannya. Siapa yang membeli (air kerasnya), di mana belinya, siapa yang menyiapkan botolnya,” kata Isnur.
Lalu ada pula pihak-pihak yang melakukan pengintaian di berbagai titik, baik di kantor YLBHI, Celios, maupun beberapa lokasi yang menjadi target operasi eksekusi.
“Kalau 4 orang, 2 mengintai (dan) 2 eksekusi kan berbeda perannya. Siapa yang nyerahin botol, di mana diserahkan botolnya. Siapa yang mengondisikan jalan,” terangnya.
Sebab di dalam peristiwa eksekusi di kawasan Jalan Talang, Salemba, Jakarta Pusat, ada sepersekian menit terjadi kondisi sepi, padahal beberapa saat sebelumnya, aktivitas lalu lalang masyarakat cukup banyak.
Situasi itu menurut Isnur patut diduga sebagai bagian dari rekayasa dalam operasi penyerangan Andrie Yunus tersebut.
“Sebelum peristiwa, kendaraan itu cukup intens lalu lalang. Tapi saat peristiwa, itu ada sepersekian menit kosong motor. Berarti siapa yang mengondisikan jalan di depan, mengosongkan jalan ini agar eksekusi terjadi,” tandas Isnur.
Saat ini semua data dan informasi yang berhasil dikumpulkan oleh TAUD, sudah diserahkan ke pihak Kepolisian, dalam hal ini Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Oleh sebab itu, baik Dimas maupun Isnur berharap besar Polri mampu menjaga integritas dan keberaniannya dalam mengungkap dan menuntaskan kasus ini.

