HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Iran tengah mempertimbangkan langkah besar yang berpotensi mengguncang perdagangan global. Negara tersebut berencana melegalkan pungutan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia.
Rencana ini disampaikan oleh anggota parlemen Iran, Mohammadreza Rezaei Kouchi, yang menyebut bahwa pemerintah ingin menyusun undang-undang untuk memperkuat kedaulatan dan kontrol atas Selat Hormuz.
“Kami ingin menetapkan dasar hukum untuk mengenakan pungutan kepada kapal yang melintas,” ujarnya, seperti dikutip Holopis.com dari kantor berita Tasnim, Jumat (27/3/2026).
Alasan dan Rencana Kebijakan
Menurut Kouchi, pungutan tersebut bertujuan untuk:
- Menjamin keamanan kapal yang melintas
- Memperkuat kontrol Iran atas jalur strategis
- Menambah sumber pendapatan negara
Rancangan aturan ini masih dalam tahap awal dan akan dibahas lebih lanjut sebelum diajukan ke parlemen.
Biaya Bisa Capai Rp33 Miliar
Sebelumnya, laporan media internasional menyebut Iran telah mulai mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS atau sekitar Rp33,8 miliar untuk kapal komersial yang melintas.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Vahid Jalalzadeh, mengatakan aturan resmi akan diberlakukan setelah konflik di kawasan mereda, bahkan direncanakan bekerja sama dengan Oman.
Langkah ini muncul di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah, termasuk serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Eskalasi tersebut sempat menyebabkan gangguan di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi energi global. Dampaknya antara lain:
- Terganggunya pasokan minyak dan gas dunia
- Kenaikan harga energi global
- Risiko inflasi di berbagai negara
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk. Jika kebijakan pungutan ini benar-benar diterapkan, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan kawasan, tetapi juga ekonomi global secara luas.
Para pengamat menilai, keputusan Iran ini bisa menjadi faktor baru yang memengaruhi stabilitas pasar energi dunia dalam waktu dekat.


