HOLOPIS.COM, JAKARTA – Manuver politik Amerika Serikat (AS) terhadap Iran memasuki babak baru. Di tengah konflik yang masih berlangsung, pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mulai membidik figur internal Iran sebagai calon mitra untuk pemimpin masa depan negara Persia itu.
Laporan media Politico yang dikutip Anadolu menyebut, Gedung Putih diam-diam mempertimbangkan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai sosok kunci dalam fase berikut usai konflik.
Menurut dua pejabat pemerintahan AS, Ghalibaf dipandang oleh sebagian lingkaran dalam Gedung Putih sebagai figur yang cukup kuat dan realistis untuk diajak bernegosiasi. Politikus garis keras itu dinilai punya potensi memimpin Iran jika terjadi perubahan kekuasaan.
Berbeda dengan spekulasi sebelumnya yang mengarah pada tokoh oposisi luar negeri, pendekatan terbaru Washington justru menyasar figur yang sudah berada di dalam struktur kekuasaan Iran.
Seorang pejabat AS menggambarkan posisi Ghalibaf sebagai kandidat yang menjanjikan, namun belum final. “Dia adalah pilihan yang menarik,” demikian seorang pejabat pemerintahan Trump dikutip dari Anadolu, pada Rabu, (25/3/2026).
Ghalibaf dianggap sebagai salah satu figur yang berpengaruh. “Tapi kita harus menguji mereka, dan kita tidak bisa terburu-buru,” kata pejabat itu.
Pendekatan AS ini seperti ingin menunjukkan perubahan strategi. Perubahan itu dari menggulingkan rezim secara langsung menjadi mencari figur kompromi dari dalam sistem yang bisa diajak bekerja sama.
Sinyal perubahan arah ini diperkuat oleh pernyataan langsung Donald Trump yang secara terang-terangan menyinggung perubahan kepemimpinan di Iran. “Akan ada perubahan rezim yang sangat serius,” kata Trump.
Trump mengklaim Iran juga siap benar-benar memulai perubahan rezim.
“Secara otomatis akan ada perubahan rezim, tetapi kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid,” tutur Trump.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Washington melihat momentum konflik sebagai peluang untuk membentuk ulang struktur kekuasaan Iran.
Model Venezuela Jadi Acuan
Lebih jauh, laporan itu mengungkap bahwa Gedung Putih bahkan mengkaji skenario seperti di Venezuela. Upaya itu dengan mempertahankan figur tertentu selama bersedia bekerja sama dengan AS, khususnya dalam sektor energi.
Trump disebut tidak ingin menyerang Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, demi menjaga peluang kesepakatan dengan pemimpin baru.
Seorang pejabat menjelaskan pendekatan ini secara gamblang dengan menyinggung Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez yang jadi Presiden Venezuela menggantikan Nicolas Maduro.
“Kami akan mempertahankan Anda di sana. Kami tidak akan menyingkirkan Anda. Anda akan bekerja sama dengan kami. Anda akan memberi kami kesepakatan yang baik, kesepakatan pertama tentang minyak,” ujar pejabat itu.
Strategi ini mengindikasikan bahwa kepentingan energi tetap menjadi faktor utama dalam kalkulasi geopolitik AS.
Meski dilirik Washington, sosok Ghalibaf bukan tanpa kontroversi. Ia dikenal sebagai figur garis keras yang kerap melontarkan ancaman terhadap AS.
Dalam laporan Anadolu, Ghalibaf bahkan sempat menyindir keras Trump: “Trump mungkin bisa memulai perang, tetapi dia tidak mengontrol bagaimana perang itu berakhir,” tulis Anadolu.
Ia juga menolak klaim adanya negosiasi langsung dengan AS. Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tak akan tunduk pada tekanan asing.
Meski nama Ghalibaf mencuat, Gedung Putih disebut belum berani mengunci satu kandidat. Proses ‘pengujian’ terhadap berbagai figur masih berlangsung untuk mencari siapa yang paling sesuai dengan kepentingan AS.
Di sisi lain, laporan intelijen AS sendiri meragukan bahwa tekanan militer semata bisa menjatuhkan rezim


