JAKARTA, Holopis.com – Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub masih menunggu visa masuk Amerika Serikat, sehingga terancam gagal menghadiri Piala Dunia 2026 yang telah resmi bergulir.
Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, terancam gagal menghadiri rangkaian Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat setelah hingga kini belum memperoleh visa masuk ke negara tersebut.
Dalam wawancara dengan Associated Press yang dikutip HOLOPIS pada Jumat (12/6), Rajoub mengungkapkan bahwa dirinya masih menunggu persetujuan visa untuk memasuki Amerika Serikat.
Padahal, ia telah mengantongi akreditasi resmi dari FIFA sebagai salah satu delegasi yang berhak menghadiri turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
Rajoub menilai situasi tersebut tidak adil bagi para pelaku sepak bola internasional yang ingin menghadiri Piala Dunia namun terkendala masalah visa.
Menurutnya, ajang olahraga seharusnya menjadi ruang yang inklusif dan terbuka bagi semua negara tanpa hambatan politik maupun administratif.
“Tidak adil jika orang-orang sepak bola dari berbagai negara kehilangan kesempatan untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam Piala Dunia karena persoalan visa,” ujarnya.
Kasus yang dialami Rajoub menambah daftar persoalan imigrasi yang mencuat menjelang pelaksanaan Piala Dunia 2026. Turnamen yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu menjadi edisi pertama yang diikuti oleh 48 tim nasional.
Meski belum dapat memasuki Amerika Serikat, Rajoub diketahui hadir dalam pertandingan pembukaan Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan yang berlangsung di Estadio Azteca, Mexico City, pada Kamis (11/6/2026).
Kehadirannya di Meksiko menunjukkan bahwa hambatan yang dihadapinya hanya terkait akses masuk ke wilayah Amerika Serikat.
Permasalahan visa tidak hanya dialami delegasi Palestina.
FIFA sebelumnya mengonfirmasi bahwa wasit asal Somalia, Omar Artan, tidak dapat bertugas dalam Piala Dunia 2026 setelah dilarang memasuki Amerika Serikat.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan mengenai kesiapan negara tuan rumah dalam menjamin akses bagi seluruh peserta dan pemangku kepentingan turnamen.
Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Iran juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat membatalkan kuota bagi suporter Iran.
Selain itu, sejumlah anggota delegasi tim nasional Iran dilaporkan mengalami penolakan dalam proses pengajuan visa.
Rangkaian kasus tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa kebijakan imigrasi Amerika Serikat berpotensi memengaruhi kelancaran penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Padahal, FIFA sebelumnya menegaskan bahwa seluruh pihak yang terlibat dalam turnamen, termasuk pemain, ofisial, wasit, media, hingga suporter, harus memperoleh akses yang memadai sesuai ketentuan penyelenggaraan.
Sebagai salah satu tuan rumah utama, Amerika Serikat akan menggelar sebagian besar pertandingan sepanjang turnamen.
Karena itu, berbagai pembatasan visa dinilai dapat berdampak langsung terhadap pengalaman dan partisipasi sejumlah negara dalam ajang tersebut.
Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai alasan belum diterbitkannya visa untuk Jibril Rajoub maupun sejumlah delegasi sepak bola lainnya.
FIFA juga belum memberikan pernyataan lanjutan terkait langkah yang akan ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Piala Dunia FIFA 2026 berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Turnamen ini menjadi sejarah baru bagi sepak bola dunia karena untuk pertama kalinya diikuti oleh 48 tim nasional dari berbagai kawasan.
Jika persoalan visa tidak segera terselesaikan, Rajoub berpotensi menjadi salah satu pejabat sepak bola internasional yang gagal menghadiri sebagian agenda resmi Piala Dunia 2026.
Situasi itu sekaligus menjadi sorotan terhadap tantangan penyelenggaraan turnamen global di tengah ketatnya kebijakan imigrasi dan dinamika politik internasional.


