HOLOPIS.COM, JAKARTA – Jumlah korban tewas akibat dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela terus bertambah. Hingga Jumat (3/7), pemerintah setempat mencatat sedikitnya 2.595 orang meninggal dunia, atau bertambah sekitar 300 korban dibandingkan sehari sebelumnya.
Dikutip Holopis.com, Jum’at (3/7), Pemerintah Venezuela menyatakan proses pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung lebih dari sepekan setelah gempa berkekuatan 7,2 magnitudo yang disusul gempa utama berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang negara tersebut. Bencana itu tercatat sebagai gempa paling kuat yang melanda Venezuela dalam lebih dari satu abad.
Pelaksana Tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan operasi pencarian belum dihentikan karena masih banyak korban yang belum berhasil ditemukan.
Selain korban meninggal, lebih dari 12.000 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Pemerintah belum mengungkap jumlah pasti warga yang masih hilang. Namun, berdasarkan daftar tidak resmi yang beredar luas di internet, sekitar 38.500 orang masih belum diketahui keberadaannya. Jumlah itu menurun dibanding beberapa hari setelah gempa yang sempat mencapai hampir 60.000 orang.
Gempa tersebut menyebabkan kerusakan parah di berbagai wilayah, terutama di Caracas dan negara bagian La Guaira yang menjadi daerah terdampak paling parah. Ratusan bangunan roboh, sementara Bandara Internasional Simón Bolívar yang menjadi pintu masuk utama menuju ibu kota juga mengalami kerusakan berat.
Rodríguez mengungkapkan hampir seluruh pejabat pemerintah daerah La Guaira turut menjadi korban dalam bencana tersebut.
Pemerintah Venezuela mencatat sekitar 800 bangunan runtuh, termasuk 189 bangunan yang hancur total. Sementara itu, hasil analisis citra satelit yang dilakukan NASA bersama peneliti Oregon State University memperkirakan hampir 58.870 bangunan mengalami kerusakan atau hancur akibat gempa.
Dari sisi ekonomi, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) memperkirakan nilai kerusakan fisik mencapai US$6,7 miliar atau setara sekitar 6 persen produk domestik bruto (PDB) Venezuela. Sementara perusahaan pemodelan risiko Verisk memperkirakan total kerugian ekonomi melampaui US$10 miliar.
Meski demikian, pemerintah menyebut aktivitas ekspor minyak Venezuela hanya mengalami gangguan kecil setelah gempa. Otoritas juga masih melakukan pemeriksaan terhadap Terminal Bahan Bakar Catia La Mar milik perusahaan minyak negara PDVSA yang berada di salah satu wilayah terdampak.
Di tengah upaya penanganan bencana, Amerika Serikat mengerahkan salah satu operasi bantuan kemanusiaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak empat tim pencarian dan penyelamatan yang terdiri dari lebih dari 900 personel diterjunkan ke Venezuela, sementara sekitar 800 personel lainnya ditempatkan di Puerto Riko dan Curaçao sebagai pusat dukungan regional.
Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menjanjikan bantuan kemanusiaan senilai US$150 juta. Selain Amerika Serikat, bantuan internasional turut berdatangan dari sejumlah negara, seperti Brasil, Meksiko, Kanada, Kuba, dan Swiss, di bawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menanggapi kritik terkait lambannya respons pemerintah, Rodríguez menegaskan pemerintah telah bergerak cepat sesaat setelah gempa terjadi. Ia menyebut status darurat serta protokol perlindungan sipil langsung diaktifkan hanya beberapa jam setelah guncangan pertama terjadi.

