HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pramono memandang konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memberi tekanan besar terhadap perekonomian, mulai dari lonjakan harga kebutuhan hingga pergerakan nilai tukar mata uang.
Ia menilai, perang yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat berpotensi menimbulkan tekanan besar, mulai dari kenaikan harga barang hingga kurs mata uang.
“Saudara-saudara sekalian, karena sekarang ini kondisi global sedang tidak baik-baik saja, kita semua harus berpikir untuk bagaimana daya tahan kita sebagai bangsa itu tetap kuat,” ujar Pramono sebagaimana informasi yang diterima Holopis.com, Senin, (9/3).
Selanjutnya, Pramono mengungkapkan bahwa perang Amerika, Israel vs Iran menyebabkan lonjakan harga minyak dunia saat ini sudah terlihat signifikan. Jika konflik terus berlanjut, Indonesia harus bersiap melewati periode yang menuntut kewaspadaan bersama.
“Hari ini harga minyak dunia mengalami kenaikan yang tinggi sekali. Dengan perang yang terjadi sekarang ini, kita akan melalui masa-masa yang harus kita rawat bersama-sama,” kata dia.
Pramono menekankan pentingnya solidaritas nasional dalam menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian tersebut. Ia menyebut kerja sama dan rasa saling percaya menjadi fondasi penting bagi bangsa dalam menghadapi tekanan eksternal.
“Maka untuk itu, kebersamaan, gotong royong, saling mempercayai, itu termasuk menjadi kata kunci bagaimana kita sebagai bangsa besar menghadapi ini,” kata Pramono.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengimbau seluruh jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tetap menjaga kestabilan serta meningkatkan kewaspadaan di tengah dinamika global.
Ia menjelaskan bahwa konflik berkepanjangan berpotensi memicu perubahan besar pada jaringan distribusi global, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga berbagai komoditas maupun layanan.
“Kenapa pengaruhnya besar? Supply chain-nya akan mengalami perubahan yang signifikan. Pasti akan mengakibatkan barang dan jasa juga akan naik. Kursnya juga pasti akan naik dan ini akan memberikan tekanan kepada APBN kita,” ungkap Pramono.


