HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua Umum MUI Pusat 2025-2030, KH Muhammad Cholil Nafis memperingatkan agar tidak ada orang yang coba-coba membuat guyonan terkait dengan agama tertentu. Hal ini disampaikan untuk merespons bercandaan Menteri ESDM (Energi Sumber Daya Mineral) Bahlil Lahadalia soal Lailatul Qadar.
Di mana Bahlil menyebut bahwa Lailatul Qadar bagi Partai Golkar, adalah ketika Presiden Prabowo Subianto mau menambah kursi di Kabinet Merah Putih.
“Sudah berkali-kali saya sampaikan bahwa keyakinan dan agama itu jangan dibikin candaan. Karena pasti menimbulkan beragam tanggapan dan kontroversial, baik karena isi candaannya atau memang karena tak suka kepada yang sedang bercanda,” kata Kiai Cholil Nafis dalam tweetnya @cholilnafis seperti dikutip Holopis.com, Sabtu (7/3/2026).
Walaupun dalam konteks penodaan agama, apa yang disampaikan Bahlil tak serta merta bisa dikategorikan sebagai penodaan agama, namun Rais Syuriyah PBNU 2022-2027 tersebut menganggap apa yang disampaikan Bahlil tidak lucu dan tak enak didengarkan.
“Meski ini tidak penodaan agama, tapi sepertinya kok tak enak didengar,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, bahwa Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia berkelakar, bagi Golkar, Lailatul Qadar baru turun ke Bumi apabila kursi mereka bertambah. Hal tersebut Bahlil sampaikan saat memberi sambutan dalam acara Nuzulul Quran bertajuk “Membumikan Al-Quran, Menggapai Hidayah, Menyongsong Lailatul Qadar” di Masjid DPP Golkar, Jakarta Barat, Jumat 6 Maret 2026.
“Ini sudah menyongsong Lailatul Qadar ya, karena sudah… Ini mataharinya sudah mulai turun-turun ini. Ibarat kalau perjalanan manusia itu, sekarang kita sudah di jam 12. Besok sudah mulai turun ke jam 1,” ujar Bahlil.
“Nah, ini insya Allah kalau orang yang selalu diberikan berkah, secercah harapan Lailatul Qadar sudah mulai turun. Tapi kalau bagi Partai Golkar, Lailatul Qadar itu kalau kursi tambah,” kelakarnya disambut tawa hadirin.
Bahlil menyampaikan, Nuzulul Quran yang selalu diperingati kader Golkar setiap Ramadhan tidak semata mengenang peristiwa sakral turunnya wahyu pertama. Lebih dari itu, kata Bahlil, Nuzulul Quran dijadikan momentum merefleksikan sejauh mana kedekatan batin manusia dengan Al-Quran.
“Kedekatan ini saya tidak akan sekadar membaca, tapi meresapi, merenungi, sekaligus mengamalkan isi Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hati kita menjadi tentram dan tercerahkan,” jelas Bahlil.


