Natal di Lebanon Jadi Sederhana Karena Krisis Ekonomi

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sebuah pohon Natal artifisial sederhana yang dihiasi ornamen lama berdiri di sudut apartemen keluarga Haddad di Beirut. Pohon tersebut telah digunakan berulang kali selama bertahun-tahun dan kini menjadi simbol keterikatan yang rapuh dengan tradisi, di tengah kondisi ekonomi yang memaksa banyak keluarga melakukan penghematan dalam hampir setiap rencana perayaan.

Bagi Rania Haddad, seorang guru sekolah negeri sekaligus ibu dari dua anak, Natal tahun ini dijalani dengan penyesuaian besar. Ia berupaya menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa perayaan kali ini tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

“Kami menjelaskan kepada anak-anak bahwa Natal sekarang berlangsung lebih sederhana. Mereka hanya akan mendapatkan satu hadiah untuk dibagi bersama. Yang terpenting adalah pohon Natalnya tetap ada,” ujar Rania, kepada wartawan asing, dikutip Holopis.com, Selasa (23/12).

Perayaan Natal yang lebih sederhana ini mencerminkan situasi serius yang dihadapi Lebanon. Di seluruh Beirut dan wilayah pinggirannya, musim liburan kini berlangsung dengan penghitungan cermat, menyeimbangkan tradisi yang dijaga dengan tekanan ekonomi yang semakin mencekik.

Di pinggiran selatan Choueifat, Nadim Salame, ayah dari tiga anak, menggambarkan perubahan drastis dalam kebiasaan belanja keluarganya. Ia kini selalu membawa kalkulator dan daftar belanja yang disusun ketat setiap kali keluar rumah.

“Sekarang kami tidak lagi sekadar melihat-lihat barang. Semua harus dihitung,” tuturnya.

- Advertisement -

Makna pemberian hadiah pun ikut berubah. Hadiah Natal kini lebih bersifat simbolis, seperti buku, mainan kecil, atau barang buatan tangan.

“Kami biasanya merencanakan kebahagiaan terlebih dahulu dan uang setelahnya. Sekarang justru sebaliknya,” ujar Salame.

Dampak krisis ekonomi terlihat jelas di distrik komersial Beirut yang dulunya ramai saat musim liburan. Di Jalan Hamra, kawasan yang dikenal dengan hiruk-pikuk Natal, pemilik toko Nadia Mezher mengenang masa ketika perayaan akhir tahun menjadi puncak penjualan.

“Natal biasanya sangat penting bagi kami. Sebelum 2019, kami bahkan tidak memiliki waktu untuk duduk di kursi. Sekarang kami membuka dan menutup toko tanpa menjual apa pun,” tuturnya.

Menurut Mezher, bahkan menurunkan harga tidak lagi efektif karena daya beli masyarakat yang terus melemah.

“Orang-orang datang, bertanya, dan pergi. Mereka kehilangan uang mereka di bank. Natal tidak lagi menjadi sebuah prioritas,” ujarnya.

Di toko pakaian Medawar yang berada tak jauh dari sana, sang pemilik mengaku kondisi usahanya semakin terpuruk. Ia menyebut belum menjual satu pun hadiah Natal pada musim ini, sementara biaya operasional melonjak tajam.

“Penjualan kami anjlok 100 persen dibandingkan sebelumnya. Saya kehilangan deposit saya di bank. Saya tidak dapat melanjutkan. Saya akan menutup usaha ini,” tuturnya.

Meski demikian, sebagian pedagang melaporkan adanya sedikit perbaikan dibandingkan titik terburuk tahun lalu, meski pemulihan dinilai masih rapuh. Wael Hamza, pemilik toko pakaian Hatab, mengatakan penjualan kini sedikit lebih baik dibandingkan masa konflik.

“Orang-orang masih peduli dengan Natal, tetapi mereka memangkas anggaran untuk hadiah,” ujarnya.

Sikap kehati-hatian ini didorong oleh krisis ekonomi yang lebih luas. Krisis keuangan Lebanon yang dimulai pada 2019 mencapai tingkat katastropik pada awal 2024, dengan nilai pound Lebanon kehilangan lebih dari 98 persen nilainya dan inflasi melonjak hingga 221 persen pada 2023.

Sebagai informasi, lebih dari setahun setelah gencatan senjata yang mulai berlaku pada 27 November 2024, negara itu masih bergulat dengan dampak konflik yang dinilai sebagai salah satu kemerosotan ekonomi terburuk dalam sejarah modern.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU